Selasa, 12 September 2017

SEPULUH BESAR PESERTA TERBAIK LDKS 2017 SMPN 88 JAKARTA, TERIMA SERTIFIKAT


Jakarta, Anggrek Garuda 88
    LDKS 2017 di SMPN 88 Jakarta telah berakhir sukses tanggal 9 September 2017. Keenampuluh satu peserta telah kembali ke kelas masing-masing. Sesuai program yang telah dicanangkan panitia penyelenggara, setiap peserta LDKS memperoleh sertifikat penghargaan sebagai bentuk formalitas yang penting terkait keberlangsungan program ekstra kurikuler SMPN 88 Jakarta.
    Ketua Panitia Pelaksana LDKS 2017 SMPN 88 Jakarta, Bainudin S.Or mengatakan, pemberian sertifikat tersebut merupakan stimulus bagi para peserta dalam meresapi proses LDKS yang mereka ikuti. Lebih lanjut Bainudin menyebutkan, sepuluh besar terbaik dari keenampuluh satu peserta bakal menerima lebih dahulu sertifikat yang dimaksud.
    “Sepuluh besar terbaik bakal menerima sertifikat lebih dahulu usai upacara bendera hari Senin ini, diserahkan langsung oleh Kepala Sekolah”, tutur Ketua Panpel LDKS 2017 SMPN 88 Jakarta.
    Usai upacara bendera di sekolah hari Senin, 11 September 2017, Kepala SMPN 88 Jakarta, Drs. H.  Yusron, M Pd langsung menyerahkan sertifikat tersebut kepada 10 peserta terbaik LDKS 2017. Dalam sambutannya, berpesan agar kesepuluh peserta terbaik tersebut dapat menjadi teladan kepemimpinan bagi adik-adik kelas di kelas VII, juga memberi kesan positif bagi para peserta LDKS tahun yang lalu.
    “Tiga dari sepuluh peserta yang menerima sertifikat hari ini akan dipersiapkan untuk menjadi pengurus OSIS tahun ini. Jadi, saya selaku Kepala Sekolah menaruh harapan besar kepada kalian untuk menjadi teladan yang bagi adik-adik kelas, juga memberi kesan positif bagi pengurus OSIS yang lama”, ujar Drs. H. Yusron, M Pd.
    Berikut ini nama-nama 10 besar terbaik peserta LDKS 2017 SMPN 88 Jakarta penerima sertifikat :
1. Nurul  Hikmah  (VIII A)
2. Regina Rania Cahya Kusumaningrum   (VIII B)
3. Muhammad Raka Perdana  (VIII C)
4. Aurelia Adinda Setyo   (VIII D)
5. Dhiva Kirana  (VIII D)
6. Soffy  Sabrina  (VIII E)
7. Athallah Radhika Fabian S.  (VIII G)
8. Syifa Agustin  (VIII G)
9. Aira Farrel Bifawwaz  (VIII H)
10. Farish Rajabi Ar-Rahman  (VIII H)

Senin, 11 September 2017

PUISI

TENTANG    EGO

Selalu ada waktu untuk kita
Selalu ada cara untuk kita
Selalu ada harapan untuk kita
Namun,  ………
Adakah waktu untuk teman kita  ?
Adakah cara agar bisa kembali bersama mereka  ?
Adakah keinginan kita sejalan dengan pemikiran mereka  ?
Image : Google
Pasti ada harapan saat kita bersama
Pasti ada cerita di dalam canda tawa
Pasti ada sejarah dalam suka dan duka
      Kita hanya perlu mencipta hal berbeda dengan mereka
      Kita hanya perlu mengubah dunia dengan persahabatan kita
Image : Google
Untukmu, aku ada dan selalu di sini
meski waktu tak lagi bersama dan memihak kita
meski cerita telah berbeda arah dan tujuan
Tapi, kita tetap satu
Karena kita sahabat selamanya

Karya   :   Adira Safina  dan  Aisyah Putri N.
           Siswa kelas IX H,  SMPN  88  Jakarta

Minggu, 10 September 2017

Cerpen


 Guru itu,  bernama Dedik Ekadiana

        Waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB, Pak Dedik bersiap-siap menuju ke sekolah menggunakan sepeda motor yang telah ia beli sejak lama.
Jarak yang jauh dari rumah menuju ke sekolah dan alasan biaya membuatnya memilih untuk mengendarai sepeda motor.
        Cukup lama waktu yang dibutuhkan Pak Dedik untuk sampai di SMP Negeri 88 Jakarta, tempat ia mengajar. Ia tergolong beruntung, karena dapat mengajar di SSN (Sekolah Standar Nasional) yaitu SMPN 88 Jakarta.
        Hari pertama mengajar, tak ada perasaan grogi pada dirinya. Maklum, pengalamannya saat magang menumbuhkan rasa percaya dirinya ketika mengajar. Sosok guru muda yang humoris dengan wajah tampan menjadikan nilai tambah bagi dirinya.
        Menurut saya, Pak Dedik adalah guru yang dapat memberi contoh kepada seluruh siswa-siswi di SMPN 88 Jakarta. Karena ia dapat mengajarkan sikap kedisiplinan kepada seluruh siswa di SMPN 88 Jakarta.
Kendati demikian, keteladanan yang ditunjukkan olehnyasangat sepadan dengan bidang pendidikan yang diembannya bagi para siswa, PPKn.
Jadi, tak berlebihan kiranya kalau kami memberi predikat kepada Pak Dedik sebagai sosok guru yang dapat memberikan contoh kedisiplinan kepada para siswa-siswi SMPN 88 Jakarta.

Karya  :  M. Abdul Latief  dan  Rafil Fahreza
            Siswa kelas  IX H,   SMPN 88  Jakarta

KADERISASI KEPEMIMPINAN VIA LDKS, SMPN 88 JAKARTA BARAT


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
SMPN 88 termasuk kelompok Sekolah Standar Nasional (SSN). Predikat seperti ini seyogyanya harus selaras dengan aktualisasi ko-kulikuler dan ekstrakurikuler yang berstandar nasional pula, seperti kaderisasi kepemimpinan para siswa-siswi di sekolah ini.
Kaderisasi kepemimpinan siswa-siswi SMP Negeri 88 selalu diadakan pada bulan kedua semester ganjil, terkait jelang penggantian kepengurusan OSIS. Kaderisasi semacam ini terlembagakan dengan nama Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS).
Tanggal 8 s.d. 9 September 2017, SMPN 88 menyelenggarakan kembali kegiatan LDKS di lingkungan sekolah. Acara tersebut diikuti sebanyak 23 siswa dan 38 siswi berprestasi dari kelas VIII.
Wakil Kesiswaan SMPN 88, Dra. Ajriah mengatakan ke 61 peserta LDKS   memang diseleksi dengan ketat berdasarkan prestasi para siswa di kelas pararel.
“Pihak sekolah memang sengaja menyeleksi seluruh siswa-siswi yang terdapat di delapan lokal kelas VIII, dan terseleksi juga 61 siswa-siswi peserta dari delapan lokal kelas tersebut,” ujar Dra. Ajriah.
            Lebih jauh, Dra. Ajriah menyebutkan, dari 61 peserta LDKS akan ditetapkan 3 orang yang menjadi Ketua, Sekretaris, dan Bendahara OSIS, menggantikan pengurus  sebelumnya yang sekarang telah duduk di kelas IX.
            Tepat pukul 15.00 WIB, acara LDKS dibuka secara resmi oleh Wakil Kesiswaan SMPN 88. Ketua Panitia Pelaksana, Bainuddin, S.Or mengatakan, materi LDKS tahun 2017meliputi antara lain : pembekalan dasar kepemimpinan, motivasi kesiswaan bakal calon pemimpin, pembuatan proposal, pembekalan agama, kuis, jeritan malam diiringi acara api unggun, dan PBB.
Pada malam harinya, peserta mengikuti kegiatan Uji Proker, semacam kegiatan dengan 3 pos, masing-masing pos peserta akan ditanya mengenai 3 divisi yang ada di OSIS.
Setelah selesai, sekitar jam 3 pagi peserta diistirahatkan dan tak lama kemudian, peserta dibangunkan secara mendadak oleh Ketua OSIS dengan teriakannya yang legendaris. Panitia lalu menyuruh peserta untuk berbaris dan menutup mata, "Jangan melek! Satu orang melek, sepuluh anak OSIS harus push-up 15 kali!" teriaknya. Peserta pun lalu dibawa ke suatu tempat. Ketika matanya dibuka terlihat spanduk yang bertuliskan Selamat Bekerja untuk OSIS SMP Negeri 88, Periode  2017-2018.
Tak disangka, wajah panitia yang pada awalnya sinis dan hostile, tiba-tiba berubah menjadi baik dan ramah, langsung diiringi dengan jabat tangan oleh panitia.
Kegiatan dilanjutkan dengan shalat subuh berjamaah. Faktor kebugaran jasmani untuk calon para pemimpin juga didistimulasi dengan pelaksanaan senam bersama yang dikomandoin oleh Bu Suci Lestari, S.Pd.
            Puncak acara LDKS pun tiba. Para peserta mengikuti pembekalan terakhir melalui Pendidikan Baris Berbaris (PBB) hingga pukul 10 pagi, tanggal 9 September 2017. Acara LDKS SMPN 88 tahun ini berjalan dengan sukses. Penutupan acara secara resmi dipimpin oleh Kepala SMPN 88, Drs. H. Yusron, M.Pd. pada pukul 10.30 WIB.











































































Sabtu, 09 September 2017

PUNGGAWA BULUTANGKIS SMPN 88, SILIPI - JAKARTA


PUNGGAWA BULUTANGKIS  SMPN 88, SILIPI - JAKARTA


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
SMP Negeri 88 terkenal sebagai sekolah di Jakarta Barat berpredikat pencetak para siswa berprestasi. Di sisi remang kegemerlapan predikat itu, ternyata masih ada catatan kecil dan perlu diketahui khalayak umum tentang kemenonjolan kegiatan di luar jam mengajar beberapa guru sekolah yang dikomandoi Drs. H. Yusron, M.Pd tersebut.
Tersebutlah empat orang guru senior SMPN 88 mendapat gelar ‘Punggawa Bulutangkis’ di sekolah ini.  Mereka adalah P. Komar, P. Panca, P. Harto, dan P. Aris. Telah beberapa tahun mereka menekuni hobi positif bermain bulutangkis setiap selesai tugas.
“Awalnya kami mencari metode untuk memupuk ketahanan stamina dalam menghadapi rutinitas  tugas di dunia pendidikan,” ungkap Pak Komar.
Setelah melalui proses pencarian beberapa kali, akhirnya mereka bersepakat untuk memilih permainan bulutangkis sebagai bentuk metode dimaksud. “kebetulan kami berempat hobi bermain bulitangkis. Tak ada salahnya, kami bersepakat menjadikan buklu tangkis sebagai media penumbuh ketahanan stamina,” imbuh Pak Panca.
Menurut Pak Harto, permainan bulu tangkis terpilih sebagai media menumbuh ketahanan stamina karena dinilai lebih efisien dalam penggunaan waktu dan ekonomis dalam pembiayaan disbanding kalau menggunakan sarana pusat kebugaran.
“Kami paham betul, bahwa waktu senggang kami sedikit di luar kegiatan belajar mengajar, sementara kami butuh stamina tetap stabil dalam menghadapi tugas sehari-hari. Di samping itu, biaya yang dikeluarkan untuk bermain bulungtangkis di banminton hall jauh lebih murah daripada  berbugar riadi pusat kebugaran yang ada”, tukas Pak Harto.
Akhirnya mereka bersepakat bermain bulutangkis di salah satu badminton hall yang berjarak tidak begitu jauh dari sekolah. “Kami bermain bulitangkis setiap hari Selasa, antara pukul 14 .00  s.d. 16.00 WIB. Dengan waktu tetap 2 jam seminggu, kebugaran terjaga, ketahanan stamina pun tercapai,” pungkas Pak Aris.
Meskipun bukan mencetak prestasi ideal, ternyata keempat punggawa bulutangkis tersebut tak urung memperoleh acungan jempol dari rekan-rekan sejawat, karena kinerja yang mereka tampilkan dalam menunaikan tugas sehari-hari pun menjadi bergairah tanpa kenal lelah.

By   :  Dedik

PERSPEKTIF HARI OLAHRAGA NASIONAL 2017


PERSPEKTIF SEMANGAT haornas,  MENUJU ERA INDONESIA HEBAT

Oleh  :  Drs. Dedik Ekadiana
                             Guru PPKn, SMPN 88 Jakarta Barat

            Kita sebagai individu bangsa Indonesia yang masih memiliki nilai-nilai idealisme kemerdekaan Indonesia pasti ingat dengan pesan-pesan idealisme kemerdekaan tersebut yang termaktub dalam konstitusi Negara, ideologi Negara, atau pun lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang  di dalamnya termaktub pesan  :
Indonesia  tanah  airku
Tanah  tumpah  darahku
Di sanalah  aku  berdiri
Jadi  pandu  ibuku
Indonesia  kebangsaanku
Bangsa  dan  tanah  airku
Marilah  kita  berseru
Indonesia  bersatu
         Hiduplah  tanahku
 Hiduplah  negeriku
                               Bangsaku  rakyatku  semuanya
                               Bangunlah  jiwanya
 Bangunlah  badannya
                               Untuk  Indonesia  Raya
Indonesia  Raya
Merdeka  Merdeka
Tanahku  negriku  yang  kucinta
Indonesia  Raya
Merdeka  Merdeka
Hiduplah  Indonesia  Raya
            Lagu kebangsaan Indonesia Raya di era kemerdekaan pertama kali dinyanyikan beberapa saat setelah Bung Karno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Bayangkan, sekitar seribu orang yang hadir pada acara sakral pertama kali yang bersifat kenegaraan dan kebangsaan, saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya diikuti oleh berkecamuknya semangat ingin membangun jiwa dan raga bangsa Indonesia yang baru saja lahir sebagai bayi Indonesia.
Image : Google
            Seiring dengan berjalannya waktu, setidak-tidaknya sejak 17 Agustus 1945 hingga 27 Desember 1949, bangsa Indonesia memasuki era revolusi fisik yang sangat menguras perhatian hingga tuntutan pengorbanan harta, jiwa, dan raga demi mempertahankan kehidupan bayi Indonesia tadi. Kehendak membangun jiwa dan raga bangsa Indonesia dalam waktu selekas mungkin pun tetap berkecamuk dalam pikiran dan perasaan para tokoh bangsa.
            Kendati demikian, kehendak mulia tersebut belum dapat diwujudkan karena adanya kaum kolonial Belanda yang menginginkan kembalinya Indonesia sebagai wilayah jajahannya. Bahkan ibukota NKRI pun yang semula di Jakarta akhirnya dipindahkan ke Yogyakarta; demi lancarnya perputaran roda pemerintahan pusat. Saat di Yogyakarta, barulah kehendak membangun jiwa dan raga bangsa Indonesia mulai bisa dirumuskan.
            Perumusan kehendak tersebut menghasilkan keputusan bahwa pelaksanaan pembangunan jiwa dan raga bangsa Indonesia dilaksanakan secara simbolis dalam bidang olahraga; banyak tokoh nasional saat itu mengingatkan semangat olympiade Athena kuno yang di dalamnya berisi banyak kegiatan event olahraga yang menghasilkan ketahanan nasional Yunani.
            Pada tahun 1948, saat pemerintah pusat dikendalikan oleh Perdana Menteri Amir Syarifudin yang kemudian digantikan oleh Drs. Muhammad Hatta, Menteri Olahraga dijabat oleh R. Maladi. Beliau mengeluarkan keputusan untuk menyelenggarakan event olahraga yang bersifat nasional untuk pertama kalinya, dan kota Solo ditetapkan sebagai tempat penyelenggaraannya; event tersebut diberi label “Pekan Olahraga Nasional” (PON).
            Tibalah acara pembukaan PON, tanggal 9 September 1948. Event tersebut dibuka secara resmi oleh Presiden Soekarno. Pada kata sambutannya Presiden Soekarno mengatakan, Pekan Olahraga Nasional adalah sarana pemersatu bangsa Indonesia yang diwakili oleh para peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Di samping itu, lanjut Presiden, event tersebut dapat menjadi bukti bagi dunia internasional bahwa bangsa Indonesia mampu membangun jiwa dan raga Indonesia di tengah berkecamuknya taufan revolusi yang belum kunjung selesai. “Pekan Olahraga Nasional juga diharapkan bisa menumbuhkan semangat kebangsaan rakyat Indonesia dalam Negara yang usianya belum lagi genap lima tahun,” pungkas Bung Karno.
            Harapan yang diungkapkan oleh Bung Karno memang terbukti. Belum genap seminggu pasca-PON I, bangsa Indonesia dihadapkan pada situasi yang mengarah ke perpecahan nasional. Amir Syarifudin yang ternyata tokoh politik haluan kiri bersama beberapa tokoh PKI, di antaranya Muso, mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR) di Madiun pada tanggal 18 September 1948, sekaligus melancarkan aksi militer terhadap TNI di kota itu, juga melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh agama di Madiun dan sekitarnya, menyusul mereka mendeklarasikan pembentukan Negara Soviet Republik Indonesia. Peristiwa ini kemudian terkenal sebagai pemberontakan PKI Madiun. Pemberontakan PKI Madiun dapat ditumpas dalam waktu kurang dari 2 bulan.
            Tiga bulan kemudian masih di tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 18 Desember 1948, militer Belanda melancarkan aksi militer ke-2 terhadap ibukota RI Yogyakarta. Yogya berhasil diduduki dan Presiden Soekarno ditawan Belanda, kemudian diasingkan ke Bukittinggi_Sumatera Barat. Jiwa dan raga bangsa Indonesia yang sudah terbangun di event PON I, bersama kekuatan Tentara Nasional Indonesia yang masih solid berhasil memukul mundur kekuatan militer Belanda dari daerah-daerah pendudukan-nya, hingga memaksa pemerintah pusat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tanggal 27 Desember 1949.
            Peristiwa -peristiwa tersebut saat ini telah terlewat hampir 7 dekade, dan Presiden Soeharto telah menetapkan tanggal 9 September sebagai Hari Olahraga Nasional (ditetapkan tanggal 9 September 1983), dan saat ini bangsa Indonesia memasuki era globalisasi yang di dalamnya penuh dengan suasana kompetisi ketat dalam pelbagai bidang kehidupan. Semangat Hari Olahraga Nasional masih relevan untuk terus diaktualisasikan demi cepat tercapainya era Indonesia Hebat.  
SELAMAT  HARI  OLAHRAGA …..
SEHATLAH  BANGSAKU … .JAYALAH  NEGERIKU

Jumat, 08 September 2017

PERTEMUAN ORANG TUA MURID, KELAS VII SMP Negeri 88, Slipi - Jakarta


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
Peranan orang tua siswa sebagai patner sekolah dalam mendidik anak-anak tidak bisa dipisahkan. Bahkan orang tualah yang hakikatnya memiliki peran utama dalam pendidikan. Sedangkan guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing, atau dengan kata lain sebagai orang tua kedua di sekolah. Sehingga banyak orang tua justru menyerahkan sepenuhnya segala macam pendidikan baik intelektual, spiritual dan juga keterampilan pada guru di sekolah. Untuk mengubah persepsi tersebut maka penting sekali sekolah menyelenggarakan pertemuan bersama orang tua wali murid di awal tahun ajaran. Selain dibuat kesepahaman dalam mendidik anak-anak juga dijabarkan kegiatan-kegiatan sekolah yang akan diselenggarakan sekolah.
Dengan demikian guru dan orang tua dapat bersinergi dan mengembangkan komunikasi horizontal bersifat kekeluargaan dalam mendidik anak-anak. Apa yang dilakukan siswa di sekolah perlu diketahui orang tua, dan begitu juga sebaiknya, lingkungan keluarga siswa perlu diketahui guru untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang bisa muncul dalam perjalanan pendidikan nantinya. Pendidikan itu butuh  keteladanan. Keteladanan yang pertama dilihat oleh siswa adalah perilaku orang tua di rumah. Anak-anak adalah  peniru yang handal. Jika orang tua tidak hati-hati maka secara tidak langsung akan memberikan dampak terhadap perkembangan anak didik. Inilah yang perlu disadari kedua belah pihak. Makanya, guru dan orang tua harus dapat berjalan bersama dan bekerjasama dalam mendidik anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Berkenaan dengan  hal tersebut,  Kepala SMPN 88 Slipi - Jakarta, Kamis, 07 September 2017 menghadirkan segenap orang tua siswa kelas 7 tahun ajaran 2017-2018 dalam rangka Sosialisasi Program Sekolah tentang (Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah).
Dalam pertemuan tersebut, juga disampaikan penggunaan kurikulum 2013 serta ekskul wajib Pramuka bagi siswa-siswi kelas 7.
Tak kurang dari 90% orang tua siswa hadir dalam pertemuan yang digelar 2 sesi itu, yaitu pukul 13.00 - 14.00 dan pukul 14.00 - 15.00 WIB  bertempat di Aula sekolah.
Pada pertemuan ini, Kepala SMPN 88, Slipi-Jakarta Drs. H. Yusron, M.Pd., menjelaskan kepada orang tua/wali siswa agar  memantau, memperhatikan anaknya dalam belajar di rumah dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Selain itu, ada beberapa hal yang penting untuk diketahui orang tua. Salah satunya tentang kurikulum 2013, di mana SMPN 88 merupakan salah satu dari beberapa sekolah yang ditunjuk pemerintah sebagai sasaran implementasi kurikulum 2013. Adapun elemen perubahan pada kurikulum 2013 adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Proses, Standar Isi dan Standar Penilaian.
Orang tua yang sesungguhnya berperan utama dalam pendidikan anak, diharapkan dapat memberikan pendampingan yang maksimal terhadap anak dalam belajar di rumah.
Ketua Komite SMP Negeri 88 Jakarta, Bpk. Aries Sudjatmiko pada kesempatan itu juga menyampaikan pesan-pesannya pada orang tua/wali kelas 7 agar memberikan perhatian ekstra pada putra-putrinya. Kenakalan remaja mulai dari vandalisme sampai penyalahgunaan obat-obatan terlarang harus benar-benar diwaspadai. Untuk itu diharapkan guru dan orangtua murid dapat bersinergi dan mengembangkan komunikasi dalam mendidik anak-anak.
Pertemuan diakhiri dengan tanya jawab oleh orang tua yang direspon secara baik oleh sekolah. 


PUISI : NUANSA RAMADHAN 2020

NUANSA   RAMADHAN   2020 Karya : Dedik Ekadiana Langit berpayungkan lazuardi Awan bercengkrama dan menderu Alam bertakhta tuk ...