Selasa, 15 Agustus 2017

PUISI


             Bhaktiku  Indonesiaku
          Karya : Dedik Ekadiana



          Telah berlalu haru biru
          Negeri ‘hiaskan angin baru
          Walau kadang riak gelombang
          mendesak seru
          Apakah ini petanda zaman
          menyapa kita ?
          Atau sekedar basa-basi waktu saja


Image : Google

                   Duhai,  negeri selaksa nusa
                   Kepadamu kuabdikan bisa
                   Biarlah mereka duduk termenung
                   Aku tak bisa bermuram durja
                   Telah tiba masa berbhakti
                   Intan permata terserak di sini


          Duhai negeri elok berperi
          Di wajahmu kusebarkan peduli
          Biarlah mereka diam termangu
          Aku tak bisa menunggu

    

Minggu, 13 Agustus 2017

Memperingati HARI PRAMUKA, di SMPN 88 Slipi, JAKARTA


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
Peringatan Hari Pramuka tahun 2017 kali ini mengambil tema “Bekerja untuk kaum muda mewariskan yang terbaik bagi bangsa.” Sebuah tema yang sarat dengan cerminan jiwa dan semangat kaum muda. Sejalan dengan tema tersebut, diharapkan peringatan hari pramuka ini menjadi moment awal untuk memupuk rasa nasionalisme, jiwa kepemimpinan, kemandirian, dan sikap tangguh pemuda dan pemudi Indonesia. Gerakan pramuka tetap berjaya dalam dunia pendidikan untuk melatih generasi muda, membangkitkan kesadaran akan pentingnya memberi konstribusi nyata sebagai warga negara. Pergaulan hedonis kaum muda dan degradasi moral yang terpampang nyata di depan mata menggugah kepedulian kita untuk menghadapi tantangan.   
Dengan mengikuti peringatan Hari Pramuka yang ke-56 ini, diharapkan pramuka penggalang SMPN 88 Slipi, Jakarta semakin menyadari jati diri mereka sebagai kaum muda terpelajar generasi penerus bangsa. kita harus bersama-sama membangun kembali semangat nasionalisme melalui gerakan pramuka ini. Eksistensi gerakan pramuka membuat kita cukup tenang di tengah perubahan jaman yang semakin memprihatinkan. Apabila kita menyusuri jejak sejarah tentang peranan gerakan pramuka, kita akan menemukan catatan bahwa pramuka adalah organisasi yang berperan dalam menyatukan semangat pemuda dan pemudi ketika masa awal kebangkitan nasional. Pada saat itu gerakan pramuka turut membangunkan pemuda dan pemudi untuk mengikuti bela negara.. Salah satunya untuk melatih softskill dan hardskill yang dimiliki seseorang. Semua itu adalah bukti nyata bahwa gerakan pramuka harus selalu dijaga eksistensinya dan terus dikembangkan untuk membangun kepribadian dan kemampuan seseorang.
Diharapkan melalui kegiatan semacam ini, pramuka penggalang Gudep 01.717 - 01.718 SMPN 88  Slipi, Jakarta dapat menjadi kaum muda yang memiliki karakter, disiplin, terampil, mandiri, berdaya juang tangguh. Untuk itu mari kita bangkit dan peduli pada sesama, karena semua mimpi yang kita harapkan bisa terwujud jika kita menjadi seseorang yang bijaksana dan lebih baik dari sebelumnya.





Sabtu, 12 Agustus 2017

MENUMBUHKAN MINAT BACA

UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA


Anggrek gruda 88, Jakarta
Kemampuan selalu membawa buku di perjalanan, di kantor, sesaat menunggu pasien,  sesaat menunggu penerbangan, di mobil atau kereta dan lain-lain. Di setiap ada kesempatan selalu dimanfaatkan untuk membaca buku,  itulah kebiasaan masyarakat Jepang sehingga negaranya mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sekarang bagaimanakah masyarakat Indonesia ?  Dalam era globalisasi ini,  orang Indonesia sedang diterpa kemelekhurufan  sehingga dia yang begitu benci kepada yang namanya membaca diakibatkan dari aktivitas manusia yang over.  Mereka sudah tidak memiliki waktu lagi untuk bersantai sambil membaca, ditambah adanya suatu persepsi, informasi yang diperoleh membaca begitu relatif sedikit dibanding dengan menonton TV misalnya.
Walau hal demikian semua sedang menuju ke arah kesempurnaan, sehingga pemerintah terus berupaya menciptakan generasi gemar membaca untuk sekian tahun yang akan datang dengan meningkatkan gerakan cinta membaca atau gerakan literasi di berbagai jenjang pendidikan.
Oleh karena itu sangat penting sekali adanya pembinaan-pembinaan minat baca di kalangan anak SD, SMP, dan SMA agar budaya baca masyarakat Indonesia di kemudian hari menjadi suatu kebutuhan  primer, seperti halnya kebutuhan makan dan minum demi mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan.
Berbagai macam bimbingan haruslah diberikan kepada anak semenjak usia SD, SMP, SMA ( termasuk di dalamnya bimbingan membaca ), sebab usia tersebut sedang mengalami proses perkembangan dalam berbagai aspek menuju ke arah tingkat perkembangan yang lebih tinggi dan lebih baik.
Sifat bimbingan berbeda halnya dengan pengajaran dan latihan, tetapi kegiatan bimbingan itu adalah melalui pendekatan pribadi yaitu memandang anak sebagai pribadi yang utuh dan memandang anak sebagai pribadi yang unik,  oleh sebab itu layanan bimbingan di SD, SMP, dan SMA adalah bimbingan yag bersifat mengembangkan.
Adapun upaya bimbingan minat baca yang dilakukan semenjak usia anak SD, SMP, dan SMA bertujuan   : 
         Mencintai buku sebagai sumber ilmu pengetahuan.
         Menanamkan minat membaca semenjak dini, sehingga membaca dapat dijadikan kebutuhan sehari-hari.
         Dapat menyerap berbagai ilmu pengetahuan di kemudian hari, demi untuk kepentingan pribadinya dan masyarakat luas,  
serta untuk memajukan bangsa dan negara. 
Bimbingan membaca tersebut sudah tentu tidak hanya teori belaka yang didengung-dengungkan baik oleh setiap guru terhadap anak didik maupun melalui berbagai mass media,  hal ini membutuhkan penanganan yang serius dan kerjasama dari berbagai pihak.
Dilihat dari hal di atas,  maka lembaga perpustakaan khususnya yang ada di sekolah sangat menunjang sekali ke arah itu,  seperti halnya dalam pelaksanaan bimbingan minat baca tersebut harus ditunjang oleh sarana buku-buku yang memadai dan menarik,  maka hanya lembaga perpustakaanlah yang akan mampu berusaha mengadakan, melengkapi buku tersebut.  Oleh karena itu penting sekali membenahi atau memajukan perpustakaan yang ada di sekolah masing-masing.
Mengapa demikian ?  Perpustakaan merupakan bagian integral dan esensial dari sekolah,  yang pada hakekatmya adalah sarana pendidikan, pusat penelitian sederhana, dan tempat membaca guna menambah ilmu pengetahuan serta tempat rekreasi dengan mempunyai fungsi dan tujuan.  Untuk membangkitkan gairah dan kebiasaan membaca, memupuk,  dan menanamkan cinta terhadap buku sebagai sumber ilmu pengetahuan, dan menumbuhkan membaca sebagai  suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, seperti halnya kebutuhan sehari-hari.

By  :  Dedik
                  

MEMBEDAKAN DUA DOUWES DEKKER




Kita seringkali mendapati guru-guru sejarah di sekolah lanjutan,  keliru membedakan dua nama Douwes Dekker.  Nama pejuang keadilan ini dipakai oleh dua orang.  Tapi anehnya,  orang kerap menyamakan antara Douwes Dekker Multatuli dan Douwes Dekker Setiabudi.  Padahal,  mereka berbeda.
Perlu kita ketahui,  dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia,  ada dua nama Douwes Dekker.  Pertama adalah  Eduard Douwes Dekker, penulis Max Havelaar.  Douwes Dekker yang satu ini dikenal sebagai Multatuli,  nama samarannya dalam  Max Havelaar.
Multatuli lahir pada tanggal  2  Maret 1820 di  Korsjespoortseeg,  Amsterdam. Ayahnya seorang kapten kapal. Semula,  Multatuli dimasukkan ke sekolah pendeta.   Tapi,  akhirnya ia bekerja di kantor dagang. Setelah itu ia berlayar ke Hindia Belanda.  Tanggal  4  Januari  1839  Multatuli mendarat di Batavia.
Selama tinggal di Hindia Belanda,  Multatuli beberapa kali pindah pekerjaan.  Pertama ia bekerja sebagai ambtenar  di Dewan Pengawas Keuangan di Batavia.  Karena kurang cocok,  ia pindah ke Natal – Sumatera Barat.  Di Padang Hulu,  Multatuli menjadi kontrolir.  Setelah itu ia terus pindah dari satu tempat ke tempat lain,  di antaranya  :  Kerawang,  Bagelan,  Manado,  Ambon hingga akhirnya menjadi Asisten Residen di Lebak. 
Image : Google
Ketika bertugas di Lebak,  Multatuli melihat beberapa penyimpangan dan penderitaan rakyat.  Rupanya penindasan tidak hanya dilakukan oleh kaum penjajah.  Tapi juga oleh para penguasa pribumi yang menjilat kepada kaum kolonialis.  Multatuli tidak tahan melihat hal itu,  ia ingin meluruskan dengan mengirim surat protes kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia.  Tapi,  kenyataannya malah dia yang dibebastugaskan,  karena dianggap kurang memahami pemerintahan kolonial.  Ia betul-betul kecewa.  Karena frustasi,  Multatuli kembali ke Eropa.   Ia tinggal di Belgia sambil menulis buku  Max Havelaar.  Buku itu menjadi karya besar.  Max Havelaar telah membuka mata dunia tentang kebiadaban pemerintah kolonial di Indonesia.  Dalam buku tersebut diceritakan kisah cinta Saidjah dan Adinda yang harus terputus karena kekejaman pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Multatuli meninggal pada tanggal  19  Februari  1887 di Neider Ingelheim,  Belgia.  Sebagai penghormatan dan perjuangannya menegakkan keadilan di Hindia Belanda,  jenazahnya dikremasikan di Gotha. Douwes Dekker yang satu lagi adalah Dr. Danudirja Setiabudi.  Nama lengkapnya adalah Ernest Eugene Francois Dauwes Dekker.  Setiabudi adalah seorang Indo yang tidak mau mengakui ke-Indoannya.  Dia masih keponakan jauh dari Multatuli.  Setiabudi lahir pada tanggal  28  Oktober  1879  di Pasuruan – Jawa Timur.
Setiabudi adalah seorang patriotik. Semula ia bekerja di perkebunan,  dan pernah menjadi guru kimia di Malang.  Selain itu ia pun pernah menjadi sukarelawan dalam Perang Boer melawan Inggris di Afrika Selatan.  Dalam perang itu,  ia ditawan pasukan Inggris dan dipenjarakan di Srilanka. Setelah bebas dan kembali ke Indonesia,  Setiabudi bergerak dan berjuang sebagai wartawan dengan menerbitkan harian De Express.  Tahun 1912 bersama Ki Hajar Dewantara, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan  Dr.  Setiabudi mendirikan partai politik  Indische Partij,  merupakan partai politik pertama yang lahir di Indonesia.  Dalam sejarah perjuangan,  mereka bertiga disebut Tiga Serangkai.  Keinginan untuk menyatukan golongan Indo dengan pribumi merupakan niat luhur dari Setiabudi.  Sebab,  baginya golongan Indo merupakan kelompok yang terlunta-lunta.  Mereka tidak pernah menganggap Indonesia sebagai tumpah darah mereka,  tapi di negeri Belanda sendiri mereka tersisih.
Image : Google
            Tahun  1913  bersama rekan-rekan seperjuangan,  Setiabudi membentuk Komite Bumi Putera.  Komite itu dibentuk untuk menentang peringatan bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis.  Karena kegiatan Komite Bumi Putera,  Setiabudi akhirnya ditangkap dan diasingkan ke negeri Belanda. Pada masa kemerdekaan,  Setiabudi pernah duduk sebagai Menteri dalam Kabinet Syahrir.  Waktu Agresi Militer II,  ia kembali ditangkap dan dipenjarakan.  Dr.  Danudirja Setiabudi meninggal pada tanggal  28  Agustus  1950  di Bandung.
            Nah,  sekarang jelas sudah perbedaan dua nama Douwes Dekker tadi.  Semoga saja,  cakrawala pandang kita terhadap pengetahuan sejarah perjuangan bangsa semakin terbuka lebar.

Karya  :  Drs. Dedik Ekadiana
               Guru  PPKn  SMP Negeri  88,  Slipi - Jakarta

Kamis, 03 Agustus 2017

SMP Negeri 88 Jakarta, Optimalkan Gerakan Literasi

SMPN 88, OPTIMALKAN  GERAKAN  LITERASI

Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
    Di beberapa negara, seperti Norwegia, Denmark, dan Swedia ternyata sudah menerapkan kegiatan membaca buku serentak sehingga menjadi negara terbaik dalam hal kegemaran masyarakat dalam membaca. Sebaliknya, kebiasaan membaca pada masyarakat Indonesia masih sangat minim. Indonesia tercatat sebagai negara dengan peringkat ke-60 masyarakat gemar membaca. Tentu bukan angka yang baik.

    Berangkat dari keperihatinan itu, untuk meningkatkan minat baca di kalangan siswa-siswi, guru, dan karyawan, SMP Negeri 88 Slipi, Jakarta punya gebrakan baru. Sekolah di bawah kepimpinan Bapak Drs. H. Yusron, M.Pd tersebut menggalakkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang bertujuan untuk meningkatkan minat para siswa-siswi kelas 7 dan kelas 8 dan para guru dalam membaca buku. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Senin jam ke-7, selama 30 menit, dari pukul 12. 30 – 13. 00 WIB.
    Sebelumnya, peserta didik menyiapkan buku yang berisi materi baca yang mengandung nilai-nilai budi pekerti, kearifan lokal, nasional, dan global.
    Program membaca ini menargetkan peningkatan prestasi siswa-siswi, baik akademik maupun nonakademik. “Harapannya siswa tidak hanya gemar membaca tapi juga menulis,” kata Pak Yusron.
    Salah satu siswi kelas 8B yang enggan disebutkan namanya, mengaku sangat senang dengan program ini, karena dapat menjadi motivasi untuk lebih gemar membaca. “Kegiatan ini membuat siswa-siswi gemar membaca sejak dini. Jadi, lebih tahu.
Saya berharap kedepannya Indonesia harus lebih maju dengan mewajibkan masyarakat mendatangi perpustakaan umum,” ujarnya ketika ditemui di ruang kelasnya.
    Menurut hemat penulis, gerakan kreatif semacam ini juga akan meningkatkan gengsi prestasi sekolah di rayon terkait, yang pada gilirannya dapat merebut hati para calon siswa-siswi untuk bersekolah di SMP Negeri 88 karena telah melihat fakta prestasi yang telah tercipta dari gerakan literasi sekolah.
By  :  Dedik

Rabu, 02 Agustus 2017

Nilai-Nilai Karakter dan Pembiasaan


Penanaman Nilai-Nilai Karakter dan  Pembiasaan di SMP Negeri 88, Jakarta


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
    Pembiasaan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara berulang-ulang dan terus menerus untuk membangun kebiasaan yang baik pada diri peserta didik.
Sekolah selayaknya menjadi sebuah "taman" bagi anak-anak Indonesia utamanya untuk mendapatkan suasana belajar dengan penuh tantangan, menyenangkan, dan berbudi pekerti luhur, melalui serangkaian kegiatan non kurikuler, yaitu kegiatan harian dan kegiatan periodik wajib maupun pilihan.
Berbudi pekerti luhur diharapkan dapat :
a)  Meningkatkan tata tertib sekolah dengan sungguh-sungguh, baik guru, karyawan, dan peserta didik
b)  Meningkatan prestasi peserta didik dalam bidang akademik dan non-akademik
c)  Mendorong terciptanya kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran
d)  Meningakatkan profesionalisme pendidik dalam proses pembelajaran
e)  Menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air
f)   Membiasakan sikap saling menghormati antar warga sekolah
g)  Meningkatkan rasa kepedulian sosial
Kegiatan pembiasaan berbudi pekerti luhur yang dilaksanakan di SMP Negeri 88, Slipi - Jakarta Barat :
  1. Kegiatan Harian :
    1. Berjabat tangan, dilaksanakan setiap pagi ketika siswa memasuki halaman sekolah
    2. Tilawah, pembacaan kitab suci Al-Qur’an secara bergiliran dipandu siswa-siswi, yang didampingi guru piket.
    3. Menyanyikan lagu wajib nasional, Indonesia Raya, yang menggambarkan semangat cinta tanah air.
    4. Memulai pelajaran dengan berdoa, dipimpin bergantian oleh siswa di bawah bimbingan guru.
    5. Sholat Dhuha, dilaksanakan pada pagi hari, memasuki pelajaran ketiga.
    6. Sholat Dzuhur berjamaah, dilaksanakan setiap hari pada istirahat ke dua.
    7. Menyanyikan satu lagu daerah  ( dari seluruh nusantara )
    8. Mengakhiri pelajaran dengan doa, dipimpin bergantian oleh siswa, di bawah bimbingan guru
  2. Kegiatan Rutin Mingguan :
    1. Upacara Bendera, dilaksanakan setiap hari Senin dan hari besar nasional
    2. Jumat bersih, kegiatan membersihkan lingkungan sekolah bersama
    3. Jumat sehat, kegiatan olahraga bersama meliputi jalan santai dan senam pagi
  3. Kegiatan Periodik :
    1. Pertemuan wali kelas dan orang tua peserta didik untuk menjelaskan visi, misi, dan aturan tata tertib sekolah.
    2. Peserta didik dibiasakan belajar kelompok di sekolah, dengan bimbingan guru
    3. Siswa terlibat dengan masyarakat untuk melihat dan memecahkan masalah-masalah nyata di lingkungan sekolah.

Kamis, 27 Juli 2017

Cagar Budaya Di Selatan Jakarta


Pemerintah Republik Indonesia memiliki beberapa Istana resmi yang terletak di Pulau Jawa dan Bali, di antaranya Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Cipanas (Bogor) dan Istana Tampaksiring (Bali). Di antara Istana-istana itu, Istana Bogor menyimpan sejuta pesona, mengingat, istana ini berdampingan dengan objek wisata alam Kebun Raya Bogor.
Di samping itu, Istana Bogor juga merupakan cagar budaya nasional yang perlu dilestarikan keberadaannya, mengingat, bangunan tersebut merupakan warisan 3 Negara kolonial sekaligus (Belanda, Prancis dan Inggris). Artinya, istana yang lokasinya berada tepat di atas lahan pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran dahulu (menurut sebagian peneliti sejarah Pasundan) nerupakan “magic box” sejarah Indonesia kontemporer.
Dalam kaitan ini, masyarakat perlu mengetahui secara umum tentang asal-usul Istana Bogor, dari ide dasar pembangunannya hingga fungsinya di masa pasca-kemerdekaan Indonesia.
1.  Konsep Awal Pembangunan
Pada masa kolonial Belanda, Kota Jakarta yang namanya Batavia merupakan pusat pemerintahan. Bagi kebanyakan orang Belanda kota ini dirasakan terlalu panas, meskipun penduduknya belum sepadat sekarang.
Pemerintah kolonial melihat keresahan ini, lalu berusaha mencari tempat peristirahatan di luar Batavia yang memiliki hawa relatif sejuk. Gubernur JenderalGustaaf Willem Baron Van Imhoff pada tanggal 10 Agustus 1744 mengadakan perjalanan dinas ke daerah Cianjur, Jawa Barat, menemukan tempat yang menurutnya strategis sebagai tempat peristirahatan yang terletak di Bogor.
Setahun kemudian (1745), Sang Gubernur Jenderal mengeluarkan perintah untuk membangun gedung yang menjadi cikal-bakal Istana Bogor. Akan tetapi bangunan tersebut pada saat itu hanya merupakan sebuah pesanggerahan yang corak arsitekturnya ditiru dari Blanheim Palace, tempat kediaman Duke of Marlborough (nenek-moyang mendiang Lady Diana / Princess of Wales), yang terletak dekat Oxford, Inggris. Pesanggerahan tersebut kemudian diberi nama “Buitenzorg” (bebas masalah / kesulitan). Pada perkembangan selanjutnya, nama itu bukan hanya untuk bangunan tersebut, tetapi juga dipakai sebagai nama kawasan penduduk di sekitarnya.

2.  Perkembangan Fisik Bangunan
Berhubung Buitenzorg dipakai sebagai tempat beraktivitas para tokoh kolonial, iapun pernah mengalami kerusakan serius akibat gempuran pasukan Banten yang dipimpin oleh Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang. Peristiwa itu terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Jacob Mossel.
Setelah gempuran Banten dapat diatasi, Sang Gubernur Jenderal pun memugar Buitenzorg dengan mempertahankan arsitekturnya semula, atas dasar saran dari Dewan Hindia Belanda, mengingat, bangunan tersebut merupakan replika dari Istana Blenheim.
Istana Buitenzorg terus mengalami perbaikan pasca-kekuasaan Gubernur Jenderal Jacob Mossel, sesuai dengan kebutuhan saat itu. Satu-satunya Gubernur Jenderal asal Prancis, Herman Willem Daendels (Tuan Besar Guntur) yang merupakan Wakil Kaisar Napoleon Bonaparte di Hindia Belanda (1808 – 1811), turut andil mendandani gedung ini dengan menambah bangunan di sayap kiri dan sayap kanan gedung utama ditingkatkan menjadi dua lantai. Daendels pula yang mendatangkan 3 pasang rusa dari perbatasan India – Nepal, sebagai penghias halaman gedung. Rusa tutul Tersebut (axis-axis species) hingga artikel ini dibuat, saat ini berjumlah 800 ekor.
Ketika Inggris berkuasa di Hindia Belanda (1811 – 1816), Leutenant Governoor General Thomas Stanford Raffles melakukan renovasi besar-besaran Istana Buitenzorg dengan membuat bagian tengah bangunan menjadi dua lantai dan menata ulang taman-tamannya menjadi model Inggris (English Style).
Gubernur Jenderal Godert Alexander GP Van Der Capellen (1817-1826) mengadakan menara lentera (Lantern-Zentrum) pada bangunan sentral. Pada masa itu pula (1817), perkebunan yang berada di sekitar istana diubah fungsi menjadi kebun percobaan untuk penelitian tumbuh-tumbuhan tropis dari dalam dan luar negeri, diresmikan sebagai “Kebun Raya” pada tanggal 18 Mei 1817. Pendirinya adalah Prof. CGC Reinwardt yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pertanian , Kerajinan dan Ilmu Pengetahuan di Hindia Belanda.
Istana Buitenzorg tamat riwayatnya ketika terjadi gempa bumi vulkanik akibat letusan gunung Krakatau di Selat Sunda pada tanggal 10 Oktober 1834. Bangunannya mengalami rusak berat dan terpaksa Pemerintah memutuskan untuk merobohkannya. Gubernur Jenderal A Jacob Duymayer Van Twist (1850) berinisiatif membangun kembali Buitenzorg Palazt dengan arsitektur Palladin dan gaya bangunan abad XIX. Istana tersebut baru terwujud secara fisik pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pahud De Montanger (1856 – 1861).
Sejak tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para gubernur jenderal Hindia Belanda.

3.  Masa Prakemerdekaan hingga Awal Kemerdekaan
Pada tanggal 1 Maret 1942, Balatentara Dai Nippon Teikoku mendarat di Batavia. Gubernur Jenderal terakhir Hindia Belanda, Tjarda Van Starkenbourg Stachouwer, menyerahkan kekuasaan kepada Jenderal Immamura. Istana Bogor (Buitenzorg) pada masa kolonial Jepang tidak mengalami perkembangan yang berarti.
Ketika perang dunia ke II berakhir dan Jepang berada di pihak yang kalah, secara de jureSekutu berhak mengambil alih pemerintahan di daerah pendudukan Jepang. Kurang lebih 200 orang anggota BKR sempat menduduki Istana Bogor, namun tak berlangsung lama karena adanya serbuan dari pasukan Gurkha. Para relawan BKR itu pun terpaksa hengkang dari Istana Bogor. Pemerintah Republik Indonesia secara de jure baru benar-benar dapat menguasai Istana Bogor yang memiliki luas 28,8 ha tersebut pada tanggal 31 Desember 1949, sesudah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada Konferensi Meja Bundar (27 Desember 1949) di Den Haag, Negeri Belanda.

4.  Istana Bogor Sebagai Objek Historis
Pada masa kemerdekaan hingga saat ini, Istana Bogor memiliki peran yang penting dalam perjalanan historis Negara Kesatuan Republik Indonesia, di antaranya :
Pada tanggal 28 – 29 Desember 1954 menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi Panca Negara, sebagai persiapan menuju Konferensi Asia – Afrika di Bandung (April 1955)
»    Menjadi Tempat Penataran P4 Tingkat Manggala (1978 – 1998)
»   Menjadi Tempat penyelenggaraan Jakarta Informal Meeting (JIM) pada       tahun 1986 untuk membahas   pertikaian antarfaksi di Kamboja
»    Menjadi tempat penyelenggaraan APEC Summit / AELM pada tanggal 15 November 1994
»    Menjadi tempat berdirinya Yayasan Kebun Raya Indonesia yang digagas 
 oleh Wapres Megawati Soekarno putri dan didukung oleh para duta besar 
 Negara-negara sahabat (dalam rangka Hari Puspa dan Cinta Satwa Nasional)
 pada tanggal 19  November 2000
»    Menjadi tempat penyelenggaraan acara Ladies Programme dalam kerangka acara
      G – 15 Summit pada tanggal 30 Mei 2001
Secara global, Istana Bogor terbagi menjadi 3 bagian, yang tiap bagiannya memiliki kegunaan yang berbeda, di antaranya :
1.  Gedung Induk Sayap Kiri
Mempunyai luas bangunan 325 m2 yang bisa dipergunakan sebagai tempat penginapan para tamu resmi Negara yang berpangkat Menteri
2.  Gedung Induk / Ruang Garuda / Gedung Utama
Biasa dipakai sebagai tempat penyelenggaraan acara-acara Kenegaraan, seperti Pertemuan Kenegaraan, Jamuan Makan Besar, Pertunjukan-pertunjukan Kesenian untuk menyambut Tamu Negara atau Peristiwa Penting dan Kegiatan-kegiatan Peting yang Bersifat nasional
3.  Gedung Induk Sayap Kanan
Biasa dipergunakan untuk menginap para Tamu Negara yang memangku jabatan Kepala Negara atau kepala Pemerintahan

 Karya  :  Drs. DEDIK EKADIANA
                Guru PPKn SMPN 88, Slipi – Palmerah,  Jakarta Barat

PUISI : NUANSA RAMADHAN 2020

NUANSA   RAMADHAN   2020 Karya : Dedik Ekadiana Langit berpayungkan lazuardi Awan bercengkrama dan menderu Alam bertakhta tuk ...