Jumat, 19 Januari 2018

PUISI

                           Asal  Mula  Bahasa
                           Karya : Dedik Ekadiana


          Ada seuntai tanya
          Menggoda lamunan kita
          Tentang asal mula
          Beribu bahasa di dunia

                   Ketika pokok segala manusia
                   Berduka sendiri tanpa kata
                   Dan lisan pun tak lebih hiasan muka
                   Karsa berhimpun dalam rasa


          Alkisah, si empunya bijaksana
          Membelah rindu jadi raga
          Sang pokok manusia jadilah menyapa
          Sang raga tanpa nama

                   Tibalah keduanya merambah dunia
                   Terpisah ‘tuk tebus dosa

          Saat bertemu pun sampai juga
          Keduanya kembali saling sapa
          Puja - puji terjalin tak berdaya
          Maka kata - kata berhimpun jadi bahasa

Rabu, 10 Januari 2018

SIKAP BELAJAR


EMPAT SIKAP DALAM BELAJAR

Bumi Cipondoh Asri, Tangerang
Proses belajar siswa di sekolah dalam hal menuntut ilmu banyak sekali rintangannya.  Belum lagi saat ujian tiba, rasanya baru juga masuk sekolah sudah ujian lagi. Waktu terasa begitu cepat.  Oleh karena itu,  kita harus memiliki sikap – sikap agar tetap fokus dalam belajar.  Inilah 4 sikap belajar yang perlu diperhatikan siswa, di antaranya  :
1. Tujuan belajar
Belajar bagi siswa harus diarahkan pada suatu cita-cita . Tujuan belajar yang bersambung dengan cita-cita akan menjadimotivasi belajar dengan sungguh-sungguh.
2. Minat pada pelajaran
Minat belajar ditujukan pada semua mata pelajaran. Pelajaran dapat dipelajari dengan baik bila kita memusatkan  perhatian terhadap apa yang dipelajari. Tidak sepatutnya kita menganaktirikan mata pelajaran tertentu dalam belajar, karena sikap ini akan merugikan diri sendiri.
3. Percaya pada diri sendiri
Setiap siswa harus yakin ia mampu memperoleh hasil yang baik dalam studinya. Percaya pada diri sendiri perlu dipupuk untuk persiapan rohani dalam berjuang di bangku sekolah. Jangan tergantung pada seorang teman.
4. Keuletan
Seorang yang bercita-cita tinggi tidaklah berhasil jika tidak disertai kesungguhan untuk memperjuangkan cita-cita itu. Keuletan rohani membuat seseorang berani menghadapi kesulitan dan tidak mudah putus asa.


By : Dedik

Minggu, 07 Januari 2018

REMAJA ENERGIK

REMAJA ENERGIK, WAKTU TIDURNYA PENDEK

Bumi Cipondoh Asri,  Tangerang
Berapa lama Anda para remaja biasanya tidur dalam sehari ? Rupanya menurut penelitian para ahli psikhologi di Amerika Serikat, dari lama tidurnya orang-orang muda dapat dilihat dari sifat maupun sikap pribadi yang bersangkutan. Tentu saja pnelitian ini bukan untuk anak-anak atau juga orang dewasa.
Menurut penelitian, orang-orang muda yang kebiasaan tidurnya kurang dari enam jam setiap malamnya adalah mereka atau pribadi-pribadi yang hidupnya efisien. Sedangkan para remaja yang tidurnya lebih dari sembilan jam, condong sebagai orang-orang pencemas atau malah sebagai penderita depresi kronis.
Dokter di Boston State Hospital Sleep Laboratory (Massa-Chussets, AS) menyimpulkan bahwa rata-rata orang muda tidurnya sekitar 7 jam 45 menit seharinya (24 jam). Para dokter itu kemudian menetapkan mengenai sifat-sifat psikhologis setelah menyelidiki sekelompok orang muda yang tidurnya lama (rata-rata 9,7 jam semalamnya) dan kelompok yang pendek tidurnya (rata-rata 5,6 jam).
Suatu tulisan yang termuat dalam “Archivis of General Pasychiatry” menyebutkan bahwa mereka yang tidurnya pendek itu adalah orang-orang yang energetik, efisiensi, ambisius, dan pekerja keras. Mereka memiliki keyakinan diri, pintar membawa diri dalam kehidupan sosial, punya sifat tegas, dan selalu puas.
Yang lama tidurnya justru sebaliknya. Kebanyakan dari mereka punya masalah neuritis, rintangan-rintangan dalam agresivitasnya, rasa tertekan atau depresi ringan.
Umumnya kelompok ini kurang memiliki keyakinan akan dirinya sendiri. Ini berkaitan dengan pilihan karir dan gaya hidup mereka. Beberapa di antara orang muda yang termasuk penidur lama ini, kadang secara sadar menggunakan tidur mereka sebagai pelarian kalau menghadapi kenyataan yang tidak mengenakkan dirinya.

By : Dedik

Sabtu, 06 Januari 2018

SENI TEATER


SENI TEATER YANG KIAN TERSISIHKAN

Bumi Cipondoh Asri,  Tangerang
Dahulu, waktu kita masih kecil pernah hidup bentuk seni teater sederhana, “Komedi Kera”. Masih terngiang ingatanku, saat rombongan komedi kera lewat di depan rumah, saya langsung merengek kepada orang tua untuk memanggilnya.
Komedi Kera (istlah Jawa, Komedi Bedhes) adalah seni teater rakyat yang berorientasi drama komedi, isi ceritanya menuju pada humoria. Pemainnya bukanlah sekelompok manusia, melainkan seekor kera dan seorang pawang yang berfungsi ganda sebagai si dalang. Diiringi peralatan tetabuhan cukup sederhana, mereka memainkannya dengan dilengkapi propertynya yang konon asal-asalan disesuaikan dengan lakon cerita yang akan dimainkan.
Bila kita membandingkan istilah “Komedi” dalam komedi kera dan komedi lainnya terdapat perbedaan walau terkadang ada persamaan. Memang benar, komedi adalah drama singkat, lucu sarat dengan cerita kehidupan manusia. Komedi kera adalah fabel bukan komedi. Fabel adalah cerita pelakunya binatang yang dimanusiakan di dalamnya mengandung petuah-petuah hidup. Suatu misal, mengambil tokoh Sarinah (seorang anak petani yang rajin membantu orang tuanya ke pasar dan atau ke sawah).
Sekarang timbul pertanyaan dibenak kita, bagaimana nasib teater keliling perkampungan ini ? Akankah ia punah ?
Kalau kita amati, anak-anak yang hidup di era modern ini lebih terbius oleh konsumerisme, gadget, seperti : hndpone, tablet, laptot, kamera dan lain-lain. Seakan-akan menjadi makanan semua anak, mereka semua senantiasa mengikuti arus perkembangan teknologi. Hanya anak-anak di sudut kota yang haus hiburan-lah sudi menonton dengan setia, ia menunggu barangkali lewat komedi kera di depan rumahnya. Yah ….. dengan itu mereka mampu tertawa tanpa bisa menerjemahkan makna apa di balik cerita yang tersaji.
Sementara itu, si pawang komedi tetap saja menyusuri perkampungan sambil memainkan tetabuhan yang di dalam benaknya terbesit sebuah harapan ada seseorang yang memanggil dan menanggapnya.

By : Dedik

Jumat, 05 Januari 2018

PUISI


                                    Bangun Bahasa Bangsa
                                    Karya : Dedik Ekadiana


                 Bahasa menunjukkan bangsa
                Adab tutur kata menunjukkan budaya
                Tingkah laku menunjukkan budi pekerti
                Yang rendah ataupun yang tinggi

                                Ada sekelompok generasi
                                Menuai kata dengan ilusi
                                Membangun sapa dengan sikap tak peduli
                                Sosoknya pun jadi asing di negeri sendiri


                Betapa ini semua tanda malapetaka
                Tentang keruntuhan satu sendi bangsa
                Bahasa laksana ritual mati
                Hanya berisi komat - kamit dan jampa - jampi

                                Nusantara bukanlah kesatuan ilusi
                                Tapi, sendi - sendinya telah terbangun pasti
                                Di antaranya adalah bahasa sendiri
                                Yang memayungi bahasa dan budaya bumi pertiwi

                Dalam kebeliaanmu,  wahai generasi
                Janganlah mudah terhanyut arus informasi
                Bahasaku juga bahasamu
                Tetaplah juga sendi bangsa

                Tak perlu ragu

Kamis, 04 Januari 2018

RITUAL ADAT TENGGER

KASODO, UPACARA RITUAL ADAT TENGGER


Bumi Cipondoh Asri,  Tangerang
Siapa tak kenal dengan masyarakat Tengger ? Masyarakat yang hidup di lereng Pegunungan Tengger ini konon banyak menarik perhatian para budayawan bahkan wisatawan manca negara. Tak ubahnya masyarakat suku Naga di wilayah Tasikmalaya, begitu pula suku Baduy di kawasan Banten. Mereka tergolong unik dan masih mempertahankan kehidupan yang begitu terikat pada tradisi.
  Suku Tengger berasal dari dua tokoh kerajaan Majapahit. Ketika itu Brawijaya mempunyai putri bernama  Rara Anteng.  Putri ini dinikahkan dengan  Joko Seger,  seorang pemuda yang masih keturunan Brahmana. Ketika Agama Islam mengembangkan pengaruhnya di Pulau Jawa,  sebagian rakyat Majapahit yang setia kepada Agama Hindu melarikan diri ke pegunungan di kaki Gunung Bromo. Kelompok Majapahit ini dipimpin langsung oleh  Joko Seger  dan  Roro Anteng. Kombinasi kedua tokoh tersebut akhirnya berubah menjadi akronim Tengger  (Teng berasal dari Roro Anteng, Ger berasal dari Joko Seger).
Image : Google
  Cikal bakal masyarakat Tengger beragama Hindu, untuk itu tradisi agama ini masih terkesan kental. Setahun sekali warga Tengger mengadakan upacara atau ritual ke-agamaan di Puncak Gunung Bromo dan Lautan Pasir. Menurut kalender masehi, upacara tersebut jatuh pada bulan ke-12 saat bulan purnama tiba, tepatnya di pertengahan bulan. Upacara ke-agamaan yang di sebut KASODO melambangkan rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Pencipta, yang diwujudkan dengan mengorbankan hasil sawah, ladang,  dan ternak sebagai persembahan.
  Kawah Gunung Bromo dianggap sebagai tempat mensucikan arwah manusia, yang mereka kenal dengan Entas-Entas (pelabuhan transit bagi arwah yang hendak menuju ke kahyangan). Sebelum mencapai gerbang kahyangan, arwah-arwah itu harus bersih dari noda dan dosa yang pernah mereka lakukan semasa hidup. Entas-Entas dilaksanakan pada hari ke-44 setelah kematian;  bisa juga dilaksanakan pada hari lain; bergantung kemampuan ekonomi keluarga yang hendak melaksanakan upacara keagamaan.  Upacara dilakukan dengan menggunakan boneka dari daun pampaung, tanah layu, nayakuh, kenikar, dan janur kuning. Boneka sebagai simbol orang disebut PETRA, yang dihias dengan pakaian milik almarhum. Jumlah petra disesuaikan dengan sosok yang hendak di-entaskan.
Image : Google
  Upacara kematian ini dipimpin oleh seorang dukun. Ia membacakan mantera, kemudian memasukkan petra ke dalam pengaron (periuk terbuat dari tanah liat). Di saat membaca mantera, sang dukun menghadap ke arah Barat. Saat itu pula, di hadapan sang dukun duduk sejumlah anak-anak kecil bertelanjang dada dan berkerudung kain putih. Mereka duduk berjejer sesuai dengan jumlah sosok yang hendak di-entaskan.  Di pertengahan pembacaan mantera, sang dukun mulai menanak nasi, bahan bakarnya dari buah jarak kering, kemudian mengambil beberapa lembar rambut dari masing-masing ubun-ubun anak kecil dan membakarnya. Selanjutnya kerudung putih tersebut diberi jarum sambil ditaburi beras di kepala anak-anak kecil itu. Upacara terkesan unik, tampak setelah sang dukun mengempit ayam putih dan membiarkannya mematoki beras di kepala anak-anak. Seorang yang dianggap sebagai sesepuh dari keluarga tersebut, membelah kelapa persis di depan pintu; diiringi pembacaan mantera penutup seraya melepaskan pakaian pembungkus setiap petra. Petra tersebut digendong para ibu kemudian dimasukkan ke danyang (tempat para roh jahat) lalu dibakar. Sesudah itu mereka membawa iber-iber berupa ayam yang dimaksudkan sebagai pengganti mayat dalam ngaben, seperti dilakukan di Bali.  
Image : Google
 Sebagai pelengkap upacara dibutuhkan perangkat sedekah praskayopan (setumpuk daun sirih, takir berisi pinang dan bunga, di atasnya diletakkan srebu atau pincuk kecil berisi talas dan kacang rebus yang ditaburi parutan kelapa). Bagian atas praskayopan ditaruh beberapa busana, kemudian dinaikkan ke loteng bersama klontongan dengan diiringi mantera. Malam harinya gamelan ditabuh bertalu-talu, dilanjutkan dengan permainan teka-teki dan sodoran, dan diakhiri dengan doa, barulah sang dukun membagikan uang logam ke perserta upacara. Uang logam tersebut dimanfaatkan sebagai jimat, yang sebelumnya harus menukar dulu dengan uang logam lain yang hendak disimpan di kluntung. Uang logam inilah yang nantinya digunaan dalam Upacara Karo tahun berikutnya.
  Upacara Wilujengan Karo lazimnya dilaksanakan pada tanggal 7 bulan kedua, untuk mmperingati roh leluhur atau bapak biyung, sebagai pendahulu generasi yang ada saat sekarang.
Selanjutnya, Wilujeng Kapat, upacara ini dilaksanakan guna memperingati sedulur papat, limo pancer, momong jangkung (penjaga desa), dan monco papating dusun atau kiblat empat desa.
  Wilujengan Kapitu jatuh pada tanggal 1 bulan ketujuh, diadakan puasa geni yang dianjutkan dengan puasa mutih selama 28 hari, dan diakhiri dengan puasa patigeni. Biasaanya puasa ini dilakukan oleh pamong desa, dukun, para sesepuh, dan masyarakat yang dianggap mampu menjalani puasa tersebut.
  Wilujeng Kawulo, pelaksanaannya pada tanggal 1 bulan kedelapan. Tujuannya untuk menyelamatkan bumi, air, api, angin, matahari, bulan, bintang, dan angkasa luar lainnya. Wilujengan kapat, kpitu, dan kawulo ini dalam sesaji sama dengan wilujengan karo; manteranya saja yang berbeda.
 Wilujengan Kasongo diadakan pada tanggal panglong bulan kesembilan. Tujuannya untuk menyelamatkan babatan hawa songo atau Sembilan lubang yang ada pada tubuh manusia. Sedang Wilujengan Kasodo diadakan pada tanggal 14 bulan kasodo di laut pasir Gunung Bromo.
  Unik dan menarik, begitulah kesan upacara ini. Kendatipun terlihat kuno bagi sebagian besar masyarakat modern, namun banyak aset-aset budaya yang bisa kita simak. Se-kuno apapun upacara ritual/tradisi di wilayah Tengger ini tak bisa kita sangkal, di sana tersimpan gaya hidup yang justru bisa kita jadikan pelajaran berharga, terutama dalam hal menghargai lingkungan hidup yang umumnya nyaris lolos dari perhatian masyarakat modern, yang hanya hidup dengan memburu harta.
 Sebagai aset wisata, kelestarian budaya masyarakat Tengger perlu dipertahankan. Bukan hanya sebagai figur atau tontonan menarik melainkan sebagai museum hidup yang menyimpan nilai-nilai sejarah.

By : Dedik

Jamu


JAMU GENDONG, di tengah PERADABAN dan TRADISI

Bumi Cipondoh Asri,  Tangerang
Dahulu kala, nenek moyang kita sudah mengenal yang namanya apotik hidup. Bila sakit cukup mencari ramuan dari akar, dedaunan, kayu, dan kulit kayu yang sudah tersedia di halaman rumahnya. Cukup dengan menumbuk saja, ramuan tersebut bisa langsung disedu. Alhasil, obat tersebut tidak punya efek samping.
Jamu merupakan sarana pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang kita, di dalamnya berisi ramuan dan atau racikan dari akar, dedaunan, kayu, kulit kayu, dan biji-bijian yang diolah oleh ahlinya.
Di era modern ini walau kehidupan serba instan, tapi keberadaan jamu tradisonal tidak begitu tergeser. Ini terbukti masih banyaknya sang penjual jamu gendong bertebaran di kampung-kampung. Wujud dari kepedulian masyarakat terhadap tradisi nenek moyang dahulu kala.
Penjual jamu gendong umumnya dari Solo dan Wonogiri yang selalu setia mengunjungi pelanggannya. Contohnya Kariyem (38th) asal Solo, tinggal di perkampungan Poris Plawad Cipondoh. Setiap harinya menjajakan jamu gendongnya di kawasan kompleks perumahan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Menurutnya, tidak merasa berat
walau barang yang digendongnya kurang lebih sekitar 15 kg. Isinya berupa botol beras kencur, sinom, lempuyang, madu, dan jamu bungkus.  Umumnya, para bapak membeli jamu sehat lelaki, kuku bima, dan tangkur. Para ibu juga tidak mau ketinggalan, mereka banyak memesan jamu galian singset dan sari ayu. Untuk kebugaran tubuh, bisa pesan jamu pegal linu, sari temu lawak, dan sinom.  
Kariyem punya pelanggan tetap terdiri dari para bapak, ibu, remaja, dan anak-anak. “Biarpun jamu gendong hampir punah, saya tetap mempertahankan keberadaannya. Ini warisan leluhur nenek moyang kita dulu”, tuturnya kepada penulis.

By : Dedik

PUISI : NUANSA RAMADHAN 2020

NUANSA   RAMADHAN   2020 Karya : Dedik Ekadiana Langit berpayungkan lazuardi Awan bercengkrama dan menderu Alam bertakhta tuk ...