Selasa, 11 Juli 2017

Halal Bilhalal, Keluarga Besar SMP Negeri 88


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
Setelah sebulan menjalankan ibadah puasa Ramadhan, umat islam merayakan kemenangan di hari raya idul fitri 1438 H ini. Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci.  Dan dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri. Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. Seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti. Idul Fitri merupakan momen penting untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok.
Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal-bihalal. Fenomena ini yang terjadi di Tanah Air, dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang.
Hari ini, Senin (10/07/2017), merupakan hari pertama tahun ajaran baru dimulai. Semua sekolah mengadakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).  Seperti biasanya, di pagi hari siswa dan guru melaksanakan apel pagi yang dilanjutkan kegiatan bersalaman, baik sesama siswa, siswa dan guru, serta karyawan atau guru dengan guru dan karyawan.
Kepala SMP Negeri 88 - Slipi, Drs. H. Yusron, M.Pd  mengatakan, “Silaturahmi mengawali hari pertama pengenalan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah {MPLS} bagi siswa baru. Pihak sekolah juga memperkenalkan sekaligus memberikan pengarahan dan pembekalan yang akan berlangsung sekitar 3 hari ke depan.
Kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai dengan tugas dan kewajiban kita. Jangan mengharapkan sesuatu yang di luar jangkauan dan kemampuan kita”, ungkapnya.

Minggu, 09 Juli 2017

KEPRIBADIAN GURU

KEPRIBADIAN GURU,  CERMIN DI MATA MURID


      Setiap manusia mempunyai naluri serba ingin tahu, konon itu sudah lumrah. Jadi, kalau kita ingin mengetahui bagaimana seharusnya guru yang baik itu bersikap, maka rasa ingin tahu itu wajar-wajar saja. Di tengah arus informasi global yang mengalir deras seperti sekarang, masih mungkinkah sosok guru memberikan keteladanan terhadap murid-muridnya ?
Bayangkan saja, murid masa kini sudah begitu terkepung beraneka ragam informasi, apakah itu dari media elektronik maupun media cetak.
            Bagaimanapun kehadiran guru masih tetap dibutuhkan. Sehebat dan secanggih apa pun tingkat perkembangan teknologi informasi, namun sosok guru tidak akan pernah menghilang dari percaturan dunia pendidikan. Penampilannya, ucapannya bahkan akhlaknya, inilah justru yang kelak dapat melahirkan generasi kelak di kemudian hari yang bisa diandalkan. Tatap muka antara guru dan murid tentunya akan lebih berarti ketimbang hanya berhadapan dengan seperangkat peralatan mati.
            Guru adalah panutan murid di sekolah. Bagaimanapun sikap dan tingkah laku guru pasti membiaskan kesan yang mendalam bagi si murid. Kendati secara tak sengaja sikap dan tingkah laku sang guru tidak disukai murid, namun akan memberi warna pada pola tingkahnya kelak. Tidak salah pula jika istilah guru merupakan kependekan dari ungkapan bahasa jawa, yang digugu dan ditiru.
            Apapun bentuk pengetahuan yang diberikan guru di meja pendidikan formal pasti ada yang mengingat-ingatnya, biar cuma oleh seorang murid sekalipun. Katakanlah pengetahuan tentang bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tua. Mengapa begitu ?  Karena pendidikan, menurut teori Hangeveld, hakikatnya memang harus dapat membentuk pribadi anak menuju alam kedewasaan.
            Dalam konotasi lain, guru sebagai pelaku pendidikan. Logis, jika sasaran kegiatan guru tertuju kepada murid. Kita sepantasnya memang harus bisa membedakan bagaimana peran seorang guru dan apa dampak perannya terhadap murid.
            Sebagai guru, seorang diharapkan mampu mengarahkan dan membentuk pribadi anak. Akan tetapi, bukan berarti anak hanya menjadi objek semata-mata yang lantas dibentuk dan dikekang. Anak justru diharapkan menjadi subjek, walupun ada keharusan untuk mematuhi sang guru.
            Khalil Gibran seorang tokoh beken di dunia pendidikan mengatakan, “Anak-anakmu bukanlah milikmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang merindukan kehidupan pula. Mereka hadir melalui-mu tapi bukan dari padamu. Walau mereka bersamamu, tapi mereka bukan kepunyaanmu. Kau boleh melindungi tubuhnya, tapi jangan kekang jiwanya karena mereka ada di hari esok yang mungkin dapat kau kunjungi walau hanya dalam mimpi. Kau berusaha agar seperti mereka, tapi jangan menghendaki agar mereka sama dengan kau, karena hidup tidaklah berjalan mundur, tidak pula tinggal di hari kemarin”.
            Apalah artinya guru sebagai panutan, kalau yang dipanuti tidak tahu arah, ke mana anak harus diarahkan, sehingga mereka tidak merasa hanya dibatasi kehendak dan jiwanya saja.

Memberikan Motivasi.
            Hendaknya imbalan terhadap siswa yang sungguh-sungguh dan berprestasi perlu dipikirkan para guru, hadiah tak perlu besar tapi bisa bermanfaat bagi mereka. Misalnya, dengan memberikan buku keagamaan yang menyangkut ketaqwaan kepada Tuhan.
            Siswa biasanya akan senang bila mendapat hadiah dari gurunya, apalagi bila ia mendapatkan hadiah tersebut bertepatan dengan momen-momen penting. Misalnya, ketika ia meraih prestasi gemilang dan menduduki ranking tertinggi di sekolahnya.
            Selain sebagai hadiah, pemberian ini bisa berdampak positif. Hubungan guru dan murid lebih erat. Tumbuh pula perasaan saling meyayangi dan mengasihi di antara mereka. Dengan rasa saling menyayangi, maka punalah sudah penyakit prasangka buruk atau rasa saling curiga antara pendidik dan murid mereka, jika perasaan seperti itu memang pernah bersemi.
            Andaikata seorang guru mendapat seorang siswa yng tekun belajar, apa salahnya jika siswa diberi pujian di depan teman-temannya. Upaya seperti ini akan mendorong siswa lain akan mengikuti langkah siswa yang telah berhasil dan memperoleh pujian itu.

Kepribadian Guru sebagai Tolok Ukur.
            Profesi guru merupakan pekerjaan terhormat dan dijunjung tinggi. Mereka dianggap mampu menjawab setiap persoalan yang berkaitan dengan pendidikan, bahkan masalah lain di kalangan masyarakat. Di wilayah pedesaan, anggapan bahwa guru adalah sosok arif yang harus diteladani masih begitu kental. Sekali mereka berbuat salah maka hancurlah citra baik yang disandangnya. Bila kita kaji lebih mendalam, rusaknya citra guru bukan semata-mata disebabkan oleh diri sendiri saja, adakalanya juga karena pengaruh lingkungan setempat. Perlakuan masyarakat terhadap mereka juga berpengaruh. Segelincir masyarakat ada yang melecehkan guru. Mereka beranggapan keliru tentang guru. Sebagai contoh, ada kata-kata yang terkadang menyakitkan hati. Buat apa sih jadi guru, nggak bakalan bisa kaya. Persis tuh seperti lagunya Iwan Fals, ‘Umar Bakri’.
            Di sisi lain tidak kurang pula sanjungan dan pujian yang diberikan kepada guru. Bila kita sering mendengarkan lagu dan puisi, ungkapan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, barangkali sudah tidak asing lagi. Ungkapan pujian itu bagaikan melekat di relung-relung ruang telinga.
            Tentunya para guru tidak berharap mendapat sanjungan dan pujian, jika hanya sekedar basa-basi yang akhirnya bisa menjurus ke arah pelecehan. Menerima sanjungan dan pujian bukanlah pekerjaan ringan, perlu pertanggung-jawaban. Benarkah seorang guru tidak pernah menginginkan imbalan jasa ?  Kalau jawabannya ‘Ya’, maka ia harus menjadi suri tauladan, bukan perbuatan tercela seperti yang dipergunjingkan orang. Ada guru panenlah, guru galaklah, dan macam-macam pergunjingan lain.
            Selama ini harapan dan idealisme masyarakat yang begitu tinggi, benar-benar mereka bebankan di pundak guru. Masyarakat menganggap bahwa guru adalah pendidik terbaik bagi anak-anaknya. Dan guru adalah orang terhormat dan memang selayaknya dihormati oleh masyarakat, khususnya orang tua murid.
            Persepsi demikian kadang membuat orang tua lengah. Pendidikan anak sepenuhnya diserahkan kepada guru. Padahal, pendidikan sebenarnya merupakan tanggung jawab keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga mata rantai inilah yang saling menjalin.
            Guru demikian awalnya, maka keberhasilan dan kegagalan anak didik bukan hanya karena faktor guru di sekolah, Namun, karena adanya kebersamaan langkah antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Orang tua sebagai pelaksana pendidikan keluarga di rumah merupakan dasar bagi pengembangan kompetensi dan kepribadian anak. Anggaplah anak baru lahir ibarat kertas putih tanpa tulisan apapun, isinya terserah orang tua. Berarti warna dan pendidikan macam apapun bisa diberikan kepada sang anak. Teori tabularasa John Lock mengatakan demikian.
            Kebalikannya, guru sebagai pendidik selama di lapangan banyak menghadapi keterbatasan-keterbatasan, walaupun tidak sedikit pula kita menemukan guru profesional, yang memiliki idealisme dan dedikasi tinggi dalam ikhwal melaksanakan tugasnya, bahkan mampu pula menepis di saat mereka ada di lapangan.
            Tipe guru professional seperti inilah yang memiliki kepribadian dan keteladanan. Tanpa keluhan, ia mampu mewujudkan hal-hal yang positif dan bahkan dapat memberi contoh perilaku yang kelak dapat memberi warna pada kepribadian sang anak.

Karya  :  Drs. Dedik Ekadiana

Rabu, 05 Juli 2017

Pesantren Kilat Ramadhan SMP Negeri 88


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
Pesantren kilat merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh sekolah pada saat bulan Puasa Ramadhan. Tujuannya untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta berbudi pekerti luhur dalam bentuk aktualisasi pembiasaan hidup beragama.
Begitu juga halnya dengan SMP Negeri 88 Slipi – Jakarta Barat, kegiatan pesantren kilat yang bertemakan “Menggapai Rahmad di Bulan Maghfiroh” dilaksanakan selama 3 hari di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan kurikulum dan dilihat dari manfaat pesantren kilat, selain mendapatkan ilmu agama, dapat pula menjalankan ibadah puasa dengan khusu’ juga banyak memperoleh pengalaman berharga, misalnya berlatih mandiri, rasa sosial dan setia kawan jadi lebih meningkat serta memupuk rasa kebersamaan.
Pesantren kilat tampaknya dapat dijadikan alternatif pendidikan islami bagi siswa sekolah umum di kota-kota besar yang relatif kurang mendapatkan pelajaran keagamaan.  Pesantren kilat selama bulan Ramadhan diharapkan dapat meningkatkan ketakwaan para siswa sekolah serta menanamkan kepedulian sesama.
Hari pertama diadakan acara pembukaan pesantren kilat oleh ketua panita Ibu Sri Sutarti, S.Ag. Ia menjelaskan pesan­tren kilat di SMP Negeri 88 Slipi bertujuan untuk mening­katkan kedisiplinan peserta didik agar lebih menghormati orang tua dan guru dan apa yang diperoleh selama pesantren kilat dapat diterapkan di lingkungan keluarga, masyarakat, serta menjadi contoh teladan di sekolah.
Terakhir kata sambutan yang disampaikan oleh Kepala  SMP  Negeri  88, Drs. H. Yusron, M.Pd bahwa peserta  sudah  me­nun­jukkan perubahan yang baik berani tampil dengan bertutur kata yang baik dan peserta hen­daknya dapat mengaplikasikan apa yang telah diperoleh dari kegiatan pesantren kilat. Dan ucapan terima kasih kepada se­luruh panitia yang terlibat dalam ke­giatan ini.
Sukses semoga di tahun yang akan datang kegiatan ini akan lebih baik. Dengan adanya pe­laksanaan  Pesantren Kilat bagi siswa di­harapkan dapat  me­ning­katkan pemahaman, peng­ha­yatan, dan pengamalan siswa tentang aja­ran agama Islam se­hingga men­jadi manusia mus­lim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta ber­akhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, ber­bangsa, dan bernegara Kemudian siswa juga dapat mem­perdalam, meman­tap­kan, dan meningkatkan pengha­ya­tan ajaran agama Islam khu­susnya tentang keimanan, iba­dah, akh­lak, dan Al quran. Juga mene­rap­kan dan mengamalkan aja­ran Islam dalam  kehidupan se­hari-hari dalam rangka mem­bentuk mental spiritual yang tangguh, kokoh, dan mampu menghadapi tantangan-tanta­ngan negatif, baik yang datang dari dirinya pribadi maupun dari luar dirinya.
Hari terakhir diadakan penu­tupan Pesantren Kilat sekaligus acara buka bersama dengan ke­pala sekolah, guru / pegawai, dan peserta Pesantren Kilat, sekali­gus Salat Magrib berjemaah. 

Senin, 03 Juli 2017

Pemilihan OSIS SMP Negeri 88

Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
    Pembelajaran demokrasi kepada siswa-siswi SMP Negeri 88 Jakarta menggelar pemilihan Ketua OSIS. Kegiatan yang mengadopsi sistem pemilihan yang dilaksanakan oleh KPU ini di dahului oleh penyampaian Visi dan Misi calon Ketua OSIS di hadapan seluruh siswa.
    Pada hari Senin (15/11) diadakan Pemilihan  Ketua OSIS Periode 2016 / 2017. Pemilihan ini diikuti oleh 853 siswa sebagai perwujudan kehidupan demokrasi yang ditanamkan di sekolah. Kandidat pada pemilihan kali ini, yaitu : Adistya Ananda Sugma S. (VIII D), Surya Azizir Vahim (VIII B), Mustofa Al-Haddar  (VIII D),  dan Putri Kinanti Gunawan (VIII B).
    Para kandidat pun diberi kesempatan menyampaikan visi dan misi mereka untuk yang terakhir kalinya dalam bentuk pidato. Mereka juga menyampaikan program kerja yang akan dicanangkan Tidak hanya berpidato, keempat kandidat terpilih ini juga menghadapi sesi tanya jawab dengan dewan guru yang diwakili oleh  Bapak H. Yusron, M.Pd.,  Ibu Dra. Ajriah, Bapak H. Edi Sumardi, M.Pd., Ibu Dra. Meridalija, S.Pd dan Bapak Bainudin, S.Or. Para kandidat yang mayoritas memiliki visi untuk mendekatkan hubungan OSIS dan siswa ini berhasil menjawab pertanyaan yang diberikan dengan baik.
    Selanjutnya pemilih memberikan hak suara dengan cara mencontreng salah satu nomor sesuai dengan nomor urut Calon Ketua OSIS yang dijagokan, dan setelah itu surat suara yang telah dicontreng dimasukkan ke dalam kotak suara.
    Untuk menghindari adanya pemilih ganda, setiap usai memberikan hak suaranya para pemilih wajib mencelupkan jari ke dalam wadah yang berisi tinta. Bagi kandidat yang bersaing diharapkan dapat  menerima apapun hasil yang diperoleh dalam proses pemilihan yang dilaksanakan. Selain itu Ketua OSIS yang nantinya terpilih  diharapkan mampu menjadi sosok yang bisa memimpin dan memberikan contoh yang baik bagi temannya.

Penyuluhan NARKOBA di SMP Negeri 88


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
    Di tengah gemuruhnya proses pendidikan yang berlangsung, pada Senin (10/4)  SMP Negeri 88 mengadakan kegiatan kesiswaan yang bertajuk Penyuluhan Tentang Bahaya Penggunaan NARKOBA
    Tema tersebut sengaja diangkat didasari keprihatinan yang yang mendalam atas pergaulan remaja saat ini, seperti dungkapkan Kepala SMPN 88  Drs. H. Yusron, M.Pd  saat memberikan sambutan : ............ bahwa remaja berada dalam masa badai dan topan, segala sesuatu yang dilihat dan didengar akan langsung direduksi dalam dirinya tanpa ada proses penelaahan dan filterisasi terlebih dahulu. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja, akan tetapi perlu perhatian serius oleh semua pihak, baik itu orang tua siswa, sekolah, pemerintah, kepolisian atau stake horder terkait untuk bersungguh-sungguh memastikan remaja yang merupakan harapan bangsa melaju pada rel yang benar  ………….. pungkasnya.
    Sebagai narasumber pada acara tersebut adalah Yayasan  Cinta Anak  Bangsa. Demikian kutipan singkat materi penyuluhan yang disampaikan : Peredaran gelap NARKOTIKA saat ini sudah merambah ke seluruh tanah air. Yang menjadi korban seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai strata sosial, termasuk kalangan pelajar/siswa sekolah. Oleh karena itu, penanganan penyalahgunaan NARKOTIKA perlu menjadi perhatian serius oleh seluruh komponen masyarakat dan tidak mungkin hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum/kepolisian saja.
Saya berharap anak-anak sekolah/lingkungan pendidikan dapat menjadi pribadi yang kuat untuk menolak NARKOBA dengan segala bentuk rayuannya harus dijauhkan dan jangan pernah untuk mencobanya jika tidak ingin menghancurkan diri dari masa depan. Selain itu, peran Pendidikan Agama menjadi sangat penting sebagai pondasi awal dan peran orang tua sangat diharapkan dalam mengantisipasi penyalahgunaan NARKOBA bagi kaum remaja. Karena peran orang tua sebagai pembimbing pertama dalam keluarga merupakan pondasi awal kepada si anak dalam mengenal lingkungan yang lebih besar.
Sehingga diharapkan dengan adanya peran orang tua dan lingkungan masyarakat terhadap kepedulian akan bahaya NARKOBA. Dampak buruk NARKOBA dapat diminimalisir dan akan tercipta generasi sehat yang bebas NARKOBA. Semoga cita-cita besar dan mulia ini segera dapat terwujud. tutupnya.

Minggu, 02 Juli 2017

PUISI

                               P E R S E M B A H A N

Jasa dengan hati yang penuh ikhlas  adalah jasa yang mulia
Tetapi jasa yang tak minta jasa  adalah jasa yang utama
Pendidik Sejati,
Masyarakat , bangsa memohon harapan  …….
Melati suci menyebarkan wangi
Suci , bhakti
Jasa mewangi
              Setiap liku sejarah yang kau titi
              Dengan jasa penuh suci, dengan bhakti penuh wangi
              Gelora lautan menghampas karang
              Menghilangkan arah,  memupus tujuan
              Bagi insan
Bahtera lancar penuh idaman
Idaman suci , idaman wangi
Mewangi membalut sepojok nurani hati pertiwi
Jasa
              Bila laut tenang lagi
              Oh,  alangkah indahnya duniaku ini
              Seindah hati yang penuh jasa mewangi
              Oh,  hati marilah senyum,  seada senyum
              Senyum suci,  penuh arti
Inilah dunia kita pendidik
Penuh senyum,  penuh wangi
Tak ada arti mereka,  minta jasa kembali
Tak  ada

Karya   :   DEDIK  EKADIANA

Pelepasan siswa-sisiwi SMPN 88


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
    Perpisahan merupakan hal yang tak menyenangkan di tengah-tengah saat terjalinnya suatu keakraban yang erat satu dengan lainnya, apalagi yang kita kasihi. Tapi karena sesuatu hal, perpisahan itu tidak boleh tidak harus dilakukan meski berat rasanya.
    Untuk melepas kepergian siswa-sisiwi kelas IX, pihak sekolah dan pengurus OSIS SMP Negeri 88, Slipi mengadakan acara perpisahan pada Jumat, 5 Juni 2017, pukul  08.00, bertempat di halaman sekolah.
    Acara tersebut berjalan dengan lancar dan meriah dengan diawali tari sambut, pidato ketua panitia penyelenggara ( Pembina OSIS ).
    Acara dilanjutkan dengan Pidato Pembukaan Kepala Sekolah ( Bapak Drs. H. Yusron, M.Pd ).  Ia berpesan “Anak-anakku tercinta, satu pesan buat kalian. Kalian adalah alumni-alumni yang baik lagi sopan. Perlihatkanlah sifat baik lagi sopan kepada orang-orang di luar sana. Buatlah hal itu menjadi ciri khas bagi alumni sekolah kita. Jagalah nama baik sekolah kita di manapun kalian menginjakkan kaki. Tetaplah hati dan pikiran kalian dalam kejujuran dan kebenaran, niscaya kalian akan menjadi orang-orang yang sukses dan berhasil di masa depan. Selamat jalan anak-anakku !  Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali di masa yang akan datang”..
    Acara dilanjutkan dengan pertunjukan pentas seni dengan berbagai kreasi, vokalia, instrument, tari oleh siswa dan bahkan guru juga ikut melantunkan lagu hiburan membuat suasana semakin akrab.
    Acara ditutup dengan menyanyikan lagu hymne guru oleh kelompok paduan suara siswa-siswi kelas VII dan VIII, diiringi salam-salaman dengan Bapak / Ibu guru dan staf karyawan dengan siswa-sisiwi kelas IX. Momen tersebut berlangsung dengan haru dan syukur atas kebersamaan selama 3 tahun bersama mereka, teriring kata maaf dan menyesal selama bimbingan yang diberikan Bapak / Ibu guru yang penuh dengan kesabaran.
    Selamat jalan dan mulai menempuh kehidupan selanjutnya dan selamat berjuang teman-teman semua, kita berdoa bersama agar nantinya kita semua menjadi berhasil dan dapat berguna bagi nusa dan bangsa.

PUISI : NUANSA RAMADHAN 2020

NUANSA   RAMADHAN   2020 Karya : Dedik Ekadiana Langit berpayungkan lazuardi Awan bercengkrama dan menderu Alam bertakhta tuk ...