Kamis, 17 Agustus 2017

TRI LOMBA, SMPN 88 MERIAHKAN HUT RI KE 72


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
Tidak pernah hilang antusias masyarakat Indonesia menyambut hari kemerdekaan. Di usia kemerdekaannya yang ke-72, telah banyak perubahan yang dialami bangsa ini. Pemimpin bangsa silih berganti, tak sedikit pun menyurutkan semangat dalam merayakan hari kemerdekaan bangsa ini.
Hari itu, Kamis (10/8) hingga Jumat (11/8) SMPN 88 Slipi, Jakarta Barat didominasi warna merah putih. Dari ruangan kelas hingga parkiran, di mana-mana ada warna merah putih.  Ya benar, hari itu kami merayakan kemerdekaan Republik Indonesia enam hari lebih awal dari seharusnya.  Bapak dan Ibu Guru serta anak-anak semarak dengan kostum merah putihnya.
Dalam rangka HUT RI ke-72 ini, SMPN 88 mengadakan tiga jenis lomba yang diikuti seluruh siswa-siswi kelas VII, VIII, dan IX. Aneka lomba tersebut,  di antaranya tarik tambang, balap karung, dan got talent (cari bakat).
Pembina OSIS, Suci Lestari, S. Pd yang didampingi Bainuddin, S. Or selaku Ketua Panitia Lomba, menjelaskan tujuannya untuk meningkatkan nilai juang siswa-siswi melatih kekompakan, kerjasama, serta kompetensi yang sportif mengisi kemerdekaan dengan kegiatan positif.
Kepala SMPN 88, Drs. H. YUSRON, M. Pd dalam sambutannya “berharap dengan mengikuti lomba ini, mereka merasa bahwa untuk mendapatkan kemenangan perlu adanya kerja keras dan perjuangan yang besar. Itulah yang ditanamkan kepada para siswa-siswi agar paham artinya perjuangan”, ungkapnya.
Semoga semangat kemerdekaan ini terus terpupuk dalam dada seluruh masyarakat Indonesia.
Semangat untuk lebih maju, lebih unggul, semangat untuk menjadi lebih baik dari hari-hari dan tahun-tahun yang telah berlalu.

MARI KOBARKAN  SEMANGAT  KEMERDEKAAN,
MERDEKA

Selasa, 15 Agustus 2017

PUISI


             Bhaktiku  Indonesiaku
          Karya : Dedik Ekadiana



          Telah berlalu haru biru
          Negeri ‘hiaskan angin baru
          Walau kadang riak gelombang
          mendesak seru
          Apakah ini petanda zaman
          menyapa kita ?
          Atau sekedar basa-basi waktu saja


Image : Google

                   Duhai,  negeri selaksa nusa
                   Kepadamu kuabdikan bisa
                   Biarlah mereka duduk termenung
                   Aku tak bisa bermuram durja
                   Telah tiba masa berbhakti
                   Intan permata terserak di sini


          Duhai negeri elok berperi
          Di wajahmu kusebarkan peduli
          Biarlah mereka diam termangu
          Aku tak bisa menunggu

    

Minggu, 13 Agustus 2017

Memperingati HARI PRAMUKA, di SMPN 88 Slipi, JAKARTA


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
Peringatan Hari Pramuka tahun 2017 kali ini mengambil tema “Bekerja untuk kaum muda mewariskan yang terbaik bagi bangsa.” Sebuah tema yang sarat dengan cerminan jiwa dan semangat kaum muda. Sejalan dengan tema tersebut, diharapkan peringatan hari pramuka ini menjadi moment awal untuk memupuk rasa nasionalisme, jiwa kepemimpinan, kemandirian, dan sikap tangguh pemuda dan pemudi Indonesia. Gerakan pramuka tetap berjaya dalam dunia pendidikan untuk melatih generasi muda, membangkitkan kesadaran akan pentingnya memberi konstribusi nyata sebagai warga negara. Pergaulan hedonis kaum muda dan degradasi moral yang terpampang nyata di depan mata menggugah kepedulian kita untuk menghadapi tantangan.   
Dengan mengikuti peringatan Hari Pramuka yang ke-56 ini, diharapkan pramuka penggalang SMPN 88 Slipi, Jakarta semakin menyadari jati diri mereka sebagai kaum muda terpelajar generasi penerus bangsa. kita harus bersama-sama membangun kembali semangat nasionalisme melalui gerakan pramuka ini. Eksistensi gerakan pramuka membuat kita cukup tenang di tengah perubahan jaman yang semakin memprihatinkan. Apabila kita menyusuri jejak sejarah tentang peranan gerakan pramuka, kita akan menemukan catatan bahwa pramuka adalah organisasi yang berperan dalam menyatukan semangat pemuda dan pemudi ketika masa awal kebangkitan nasional. Pada saat itu gerakan pramuka turut membangunkan pemuda dan pemudi untuk mengikuti bela negara.. Salah satunya untuk melatih softskill dan hardskill yang dimiliki seseorang. Semua itu adalah bukti nyata bahwa gerakan pramuka harus selalu dijaga eksistensinya dan terus dikembangkan untuk membangun kepribadian dan kemampuan seseorang.
Diharapkan melalui kegiatan semacam ini, pramuka penggalang Gudep 01.717 - 01.718 SMPN 88  Slipi, Jakarta dapat menjadi kaum muda yang memiliki karakter, disiplin, terampil, mandiri, berdaya juang tangguh. Untuk itu mari kita bangkit dan peduli pada sesama, karena semua mimpi yang kita harapkan bisa terwujud jika kita menjadi seseorang yang bijaksana dan lebih baik dari sebelumnya.





Sabtu, 12 Agustus 2017

MENUMBUHKAN MINAT BACA

UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA


Anggrek gruda 88, Jakarta
Kemampuan selalu membawa buku di perjalanan, di kantor, sesaat menunggu pasien,  sesaat menunggu penerbangan, di mobil atau kereta dan lain-lain. Di setiap ada kesempatan selalu dimanfaatkan untuk membaca buku,  itulah kebiasaan masyarakat Jepang sehingga negaranya mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sekarang bagaimanakah masyarakat Indonesia ?  Dalam era globalisasi ini,  orang Indonesia sedang diterpa kemelekhurufan  sehingga dia yang begitu benci kepada yang namanya membaca diakibatkan dari aktivitas manusia yang over.  Mereka sudah tidak memiliki waktu lagi untuk bersantai sambil membaca, ditambah adanya suatu persepsi, informasi yang diperoleh membaca begitu relatif sedikit dibanding dengan menonton TV misalnya.
Walau hal demikian semua sedang menuju ke arah kesempurnaan, sehingga pemerintah terus berupaya menciptakan generasi gemar membaca untuk sekian tahun yang akan datang dengan meningkatkan gerakan cinta membaca atau gerakan literasi di berbagai jenjang pendidikan.
Oleh karena itu sangat penting sekali adanya pembinaan-pembinaan minat baca di kalangan anak SD, SMP, dan SMA agar budaya baca masyarakat Indonesia di kemudian hari menjadi suatu kebutuhan  primer, seperti halnya kebutuhan makan dan minum demi mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan.
Berbagai macam bimbingan haruslah diberikan kepada anak semenjak usia SD, SMP, SMA ( termasuk di dalamnya bimbingan membaca ), sebab usia tersebut sedang mengalami proses perkembangan dalam berbagai aspek menuju ke arah tingkat perkembangan yang lebih tinggi dan lebih baik.
Sifat bimbingan berbeda halnya dengan pengajaran dan latihan, tetapi kegiatan bimbingan itu adalah melalui pendekatan pribadi yaitu memandang anak sebagai pribadi yang utuh dan memandang anak sebagai pribadi yang unik,  oleh sebab itu layanan bimbingan di SD, SMP, dan SMA adalah bimbingan yag bersifat mengembangkan.
Adapun upaya bimbingan minat baca yang dilakukan semenjak usia anak SD, SMP, dan SMA bertujuan   : 
         Mencintai buku sebagai sumber ilmu pengetahuan.
         Menanamkan minat membaca semenjak dini, sehingga membaca dapat dijadikan kebutuhan sehari-hari.
         Dapat menyerap berbagai ilmu pengetahuan di kemudian hari, demi untuk kepentingan pribadinya dan masyarakat luas,  
serta untuk memajukan bangsa dan negara. 
Bimbingan membaca tersebut sudah tentu tidak hanya teori belaka yang didengung-dengungkan baik oleh setiap guru terhadap anak didik maupun melalui berbagai mass media,  hal ini membutuhkan penanganan yang serius dan kerjasama dari berbagai pihak.
Dilihat dari hal di atas,  maka lembaga perpustakaan khususnya yang ada di sekolah sangat menunjang sekali ke arah itu,  seperti halnya dalam pelaksanaan bimbingan minat baca tersebut harus ditunjang oleh sarana buku-buku yang memadai dan menarik,  maka hanya lembaga perpustakaanlah yang akan mampu berusaha mengadakan, melengkapi buku tersebut.  Oleh karena itu penting sekali membenahi atau memajukan perpustakaan yang ada di sekolah masing-masing.
Mengapa demikian ?  Perpustakaan merupakan bagian integral dan esensial dari sekolah,  yang pada hakekatmya adalah sarana pendidikan, pusat penelitian sederhana, dan tempat membaca guna menambah ilmu pengetahuan serta tempat rekreasi dengan mempunyai fungsi dan tujuan.  Untuk membangkitkan gairah dan kebiasaan membaca, memupuk,  dan menanamkan cinta terhadap buku sebagai sumber ilmu pengetahuan, dan menumbuhkan membaca sebagai  suatu kebutuhan yang harus dipenuhi, seperti halnya kebutuhan sehari-hari.

By  :  Dedik
                  

MEMBEDAKAN DUA DOUWES DEKKER




Kita seringkali mendapati guru-guru sejarah di sekolah lanjutan,  keliru membedakan dua nama Douwes Dekker.  Nama pejuang keadilan ini dipakai oleh dua orang.  Tapi anehnya,  orang kerap menyamakan antara Douwes Dekker Multatuli dan Douwes Dekker Setiabudi.  Padahal,  mereka berbeda.
Perlu kita ketahui,  dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia,  ada dua nama Douwes Dekker.  Pertama adalah  Eduard Douwes Dekker, penulis Max Havelaar.  Douwes Dekker yang satu ini dikenal sebagai Multatuli,  nama samarannya dalam  Max Havelaar.
Multatuli lahir pada tanggal  2  Maret 1820 di  Korsjespoortseeg,  Amsterdam. Ayahnya seorang kapten kapal. Semula,  Multatuli dimasukkan ke sekolah pendeta.   Tapi,  akhirnya ia bekerja di kantor dagang. Setelah itu ia berlayar ke Hindia Belanda.  Tanggal  4  Januari  1839  Multatuli mendarat di Batavia.
Selama tinggal di Hindia Belanda,  Multatuli beberapa kali pindah pekerjaan.  Pertama ia bekerja sebagai ambtenar  di Dewan Pengawas Keuangan di Batavia.  Karena kurang cocok,  ia pindah ke Natal – Sumatera Barat.  Di Padang Hulu,  Multatuli menjadi kontrolir.  Setelah itu ia terus pindah dari satu tempat ke tempat lain,  di antaranya  :  Kerawang,  Bagelan,  Manado,  Ambon hingga akhirnya menjadi Asisten Residen di Lebak. 
Image : Google
Ketika bertugas di Lebak,  Multatuli melihat beberapa penyimpangan dan penderitaan rakyat.  Rupanya penindasan tidak hanya dilakukan oleh kaum penjajah.  Tapi juga oleh para penguasa pribumi yang menjilat kepada kaum kolonialis.  Multatuli tidak tahan melihat hal itu,  ia ingin meluruskan dengan mengirim surat protes kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia.  Tapi,  kenyataannya malah dia yang dibebastugaskan,  karena dianggap kurang memahami pemerintahan kolonial.  Ia betul-betul kecewa.  Karena frustasi,  Multatuli kembali ke Eropa.   Ia tinggal di Belgia sambil menulis buku  Max Havelaar.  Buku itu menjadi karya besar.  Max Havelaar telah membuka mata dunia tentang kebiadaban pemerintah kolonial di Indonesia.  Dalam buku tersebut diceritakan kisah cinta Saidjah dan Adinda yang harus terputus karena kekejaman pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Multatuli meninggal pada tanggal  19  Februari  1887 di Neider Ingelheim,  Belgia.  Sebagai penghormatan dan perjuangannya menegakkan keadilan di Hindia Belanda,  jenazahnya dikremasikan di Gotha. Douwes Dekker yang satu lagi adalah Dr. Danudirja Setiabudi.  Nama lengkapnya adalah Ernest Eugene Francois Dauwes Dekker.  Setiabudi adalah seorang Indo yang tidak mau mengakui ke-Indoannya.  Dia masih keponakan jauh dari Multatuli.  Setiabudi lahir pada tanggal  28  Oktober  1879  di Pasuruan – Jawa Timur.
Setiabudi adalah seorang patriotik. Semula ia bekerja di perkebunan,  dan pernah menjadi guru kimia di Malang.  Selain itu ia pun pernah menjadi sukarelawan dalam Perang Boer melawan Inggris di Afrika Selatan.  Dalam perang itu,  ia ditawan pasukan Inggris dan dipenjarakan di Srilanka. Setelah bebas dan kembali ke Indonesia,  Setiabudi bergerak dan berjuang sebagai wartawan dengan menerbitkan harian De Express.  Tahun 1912 bersama Ki Hajar Dewantara, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan  Dr.  Setiabudi mendirikan partai politik  Indische Partij,  merupakan partai politik pertama yang lahir di Indonesia.  Dalam sejarah perjuangan,  mereka bertiga disebut Tiga Serangkai.  Keinginan untuk menyatukan golongan Indo dengan pribumi merupakan niat luhur dari Setiabudi.  Sebab,  baginya golongan Indo merupakan kelompok yang terlunta-lunta.  Mereka tidak pernah menganggap Indonesia sebagai tumpah darah mereka,  tapi di negeri Belanda sendiri mereka tersisih.
Image : Google
            Tahun  1913  bersama rekan-rekan seperjuangan,  Setiabudi membentuk Komite Bumi Putera.  Komite itu dibentuk untuk menentang peringatan bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Perancis.  Karena kegiatan Komite Bumi Putera,  Setiabudi akhirnya ditangkap dan diasingkan ke negeri Belanda. Pada masa kemerdekaan,  Setiabudi pernah duduk sebagai Menteri dalam Kabinet Syahrir.  Waktu Agresi Militer II,  ia kembali ditangkap dan dipenjarakan.  Dr.  Danudirja Setiabudi meninggal pada tanggal  28  Agustus  1950  di Bandung.
            Nah,  sekarang jelas sudah perbedaan dua nama Douwes Dekker tadi.  Semoga saja,  cakrawala pandang kita terhadap pengetahuan sejarah perjuangan bangsa semakin terbuka lebar.

Karya  :  Drs. Dedik Ekadiana
               Guru  PPKn  SMP Negeri  88,  Slipi - Jakarta

Kamis, 03 Agustus 2017

SMP Negeri 88 Jakarta, Optimalkan Gerakan Literasi

SMPN 88, OPTIMALKAN  GERAKAN  LITERASI

Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
    Di beberapa negara, seperti Norwegia, Denmark, dan Swedia ternyata sudah menerapkan kegiatan membaca buku serentak sehingga menjadi negara terbaik dalam hal kegemaran masyarakat dalam membaca. Sebaliknya, kebiasaan membaca pada masyarakat Indonesia masih sangat minim. Indonesia tercatat sebagai negara dengan peringkat ke-60 masyarakat gemar membaca. Tentu bukan angka yang baik.

    Berangkat dari keperihatinan itu, untuk meningkatkan minat baca di kalangan siswa-siswi, guru, dan karyawan, SMP Negeri 88 Slipi, Jakarta punya gebrakan baru. Sekolah di bawah kepimpinan Bapak Drs. H. Yusron, M.Pd tersebut menggalakkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang bertujuan untuk meningkatkan minat para siswa-siswi kelas 7 dan kelas 8 dan para guru dalam membaca buku. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Senin jam ke-7, selama 30 menit, dari pukul 12. 30 – 13. 00 WIB.
    Sebelumnya, peserta didik menyiapkan buku yang berisi materi baca yang mengandung nilai-nilai budi pekerti, kearifan lokal, nasional, dan global.
    Program membaca ini menargetkan peningkatan prestasi siswa-siswi, baik akademik maupun nonakademik. “Harapannya siswa tidak hanya gemar membaca tapi juga menulis,” kata Pak Yusron.
    Salah satu siswi kelas 8B yang enggan disebutkan namanya, mengaku sangat senang dengan program ini, karena dapat menjadi motivasi untuk lebih gemar membaca. “Kegiatan ini membuat siswa-siswi gemar membaca sejak dini. Jadi, lebih tahu.
Saya berharap kedepannya Indonesia harus lebih maju dengan mewajibkan masyarakat mendatangi perpustakaan umum,” ujarnya ketika ditemui di ruang kelasnya.
    Menurut hemat penulis, gerakan kreatif semacam ini juga akan meningkatkan gengsi prestasi sekolah di rayon terkait, yang pada gilirannya dapat merebut hati para calon siswa-siswi untuk bersekolah di SMP Negeri 88 karena telah melihat fakta prestasi yang telah tercipta dari gerakan literasi sekolah.
By  :  Dedik

Rabu, 02 Agustus 2017

Nilai-Nilai Karakter dan Pembiasaan


Penanaman Nilai-Nilai Karakter dan  Pembiasaan di SMP Negeri 88, Jakarta


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
    Pembiasaan adalah kegiatan yang dilaksanakan secara berulang-ulang dan terus menerus untuk membangun kebiasaan yang baik pada diri peserta didik.
Sekolah selayaknya menjadi sebuah "taman" bagi anak-anak Indonesia utamanya untuk mendapatkan suasana belajar dengan penuh tantangan, menyenangkan, dan berbudi pekerti luhur, melalui serangkaian kegiatan non kurikuler, yaitu kegiatan harian dan kegiatan periodik wajib maupun pilihan.
Berbudi pekerti luhur diharapkan dapat :
a)  Meningkatkan tata tertib sekolah dengan sungguh-sungguh, baik guru, karyawan, dan peserta didik
b)  Meningkatan prestasi peserta didik dalam bidang akademik dan non-akademik
c)  Mendorong terciptanya kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran
d)  Meningakatkan profesionalisme pendidik dalam proses pembelajaran
e)  Menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air
f)   Membiasakan sikap saling menghormati antar warga sekolah
g)  Meningkatkan rasa kepedulian sosial
Kegiatan pembiasaan berbudi pekerti luhur yang dilaksanakan di SMP Negeri 88, Slipi - Jakarta Barat :
  1. Kegiatan Harian :
    1. Berjabat tangan, dilaksanakan setiap pagi ketika siswa memasuki halaman sekolah
    2. Tilawah, pembacaan kitab suci Al-Qur’an secara bergiliran dipandu siswa-siswi, yang didampingi guru piket.
    3. Menyanyikan lagu wajib nasional, Indonesia Raya, yang menggambarkan semangat cinta tanah air.
    4. Memulai pelajaran dengan berdoa, dipimpin bergantian oleh siswa di bawah bimbingan guru.
    5. Sholat Dhuha, dilaksanakan pada pagi hari, memasuki pelajaran ketiga.
    6. Sholat Dzuhur berjamaah, dilaksanakan setiap hari pada istirahat ke dua.
    7. Menyanyikan satu lagu daerah  ( dari seluruh nusantara )
    8. Mengakhiri pelajaran dengan doa, dipimpin bergantian oleh siswa, di bawah bimbingan guru
  2. Kegiatan Rutin Mingguan :
    1. Upacara Bendera, dilaksanakan setiap hari Senin dan hari besar nasional
    2. Jumat bersih, kegiatan membersihkan lingkungan sekolah bersama
    3. Jumat sehat, kegiatan olahraga bersama meliputi jalan santai dan senam pagi
  3. Kegiatan Periodik :
    1. Pertemuan wali kelas dan orang tua peserta didik untuk menjelaskan visi, misi, dan aturan tata tertib sekolah.
    2. Peserta didik dibiasakan belajar kelompok di sekolah, dengan bimbingan guru
    3. Siswa terlibat dengan masyarakat untuk melihat dan memecahkan masalah-masalah nyata di lingkungan sekolah.

PUISI : NUANSA RAMADHAN 2020

NUANSA   RAMADHAN   2020 Karya : Dedik Ekadiana Langit berpayungkan lazuardi Awan bercengkrama dan menderu Alam bertakhta tuk ...