Minggu, 16 Juli 2017

MPLS SMP Negeri 88 Jakarta


MPLS  SMP Negeri 88  Jakarta,  Wujudkan Siswa Berkarakte

Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan program awal tahun pelajaran yang wajib diikuti peserta didik baru. MPLS  di SMP Negeri 88 Slipi,  Jakarta dilaksanakan mulai hari Sabtu, 8 Juli 2017 sebagai kegiatan pra  MPLS  dan  dilanjutkan  dengan kegiatan inti selama 3 hari, mulai Senin s.d. Rabu, 10 - 12 Juli 2017. Kegiatan ini diikuti oleh 288 orang peserta didik baru, terdiri dari 151 laki-laki dan 137 perempuan. Kegiatan  ini dikoordinir Kepala SMPN 88, Drs. H. Yusron, M.Pd., Wk. Kesiswaan Dra. Ajriah, S.Pd., para guru, dan anggota OSIS secara resmi membuka kegiatan tersebut. 
Selama kegiatan MPLS, mereka mendapatkan berbagai materi tentang pengenalan lingkungan sekolah, di antaranya Wawasan Wiyatamandala, Tata Tertib Sekolah, Kurikulum dan Pembelajaran Efektif, Nasionalisme, Bela Negara, Pengenalan Sarana dan Prasarana Sekolah,  Pengenalan Budaya Sekolah, dan Demo Ekstrakurikuler.
Pada hari kedua kegiatan MPLS diisi dengan penyuluhan kesehatan oleh Dinkes DKI Jakarta, Dr. Nisma Hiddin yang bekerjasama dengan Mahasiswa Kedokteran UKRIDA. Ia mensosialisasi Pembiasaan Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), bentuk perwujudan paradigma sehat dalam budaya perorangan, keluarga, dan masyarakat yang berorientasi sehat.
Tujuan PHBS adalah untuk meningkatkan, memelihara, dan melindungi kesehatan masyarakat, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Salah satunya yang menjadi perhatiannya, yakni di lingkungan sekolah.
“Lingkungan sekolah wajib menerapkan PHBS supaya siswa, tenaga pendidik, dan masyarakat sekitar dapat terjaga dari sisi kesehatannya,” ujar Nisma Hiddin. Pelaksana Tim Kesehatan DKI Jakarta, Selasa (11/07/17).
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran dalam menilai PHBS di sekolah, yaitu memelihara rambut agar bersih dan rapi, memakai pakaian bersih dan rapi, memelihara kuku agar selalu pendek dan bersih, memakai sepatu bersih dan rapi, berolahraga teratur dan terukur. Selain itu, juga mengadakan pemberantasan jentik nyamuk di sekolah.
Selanjutnya, PHBS di sekolah juga dapat diterapkan dengan menggunakan kakus yang bersih dan sehat, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, membuang sampah ke tempat sampah yang terpilah, serta mengonsumsi jajanan sehat dari kantin sekolah.
Agenda terakhir MPLS dipandu satuan Tim Damkar, Bapak Susilo, SE dalam sosialisasinya seluruh pelajar, guru, dan staf sekolah diberikan pengarahan mulai dari sebab adanya percikan api, terjadinya kebakaran hingga cara menanggulanginya. Hal ini teramat penting dilaksanakan di sekolah agar sewaktu-waktu saat kejadian kebakaran, seluruh warga sekolah dapat melakukan pemadaman.
Satuan Tim Damkar juga memberikan  demonstrasi bagaimana cara memadamkan api dengan menggunakan karung basah dan juga tabung APAR, kemudian diikuti demo yang dilakukan oleh guru, staf sekolah, dan siswa - siswi.
Kepala SMPN 88 Drs. H. Yusron, M.Pd menyambut baik terlaksananya program ini, karena dapat membentuk karakter siswa yang lebih berdisiplin dan bertanggung jawab dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya. “Supaya mereka merasa lebih peduli dan merawat apa yang ada di lingkungannya”, pungkasnya.
Sebagai penutup kegiatan MPLS, para pelajar menampilkan beberapa ekstrakurikuler seperti Pramuka, Paskibraka, dan Seni. Ekstrakurikuler,  seperti Pramuka dan Paskibraka menampilkan kemampuan dalam hal PBB, sementara karate melakukan gerakan-gerakan bela diri. Untuk ekstrakurikuler seni, menampilkan seni theater yang baru diperkenalkan pada MPLS tahun ini.
Cara ini untuk menjaring minat dan bakat siswa baru terhadap ektrakurikuler yang ada di sekolah. Sebenarnya masih banyak ekstrakurikuler lain,  seperti : PMR, Futsal, Bola Volley, Bola Basket, Badminton, Tenis Meja, Catur, dan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Dalam acara ini pula yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan akhlak dan nilai-nilai kebaikan juga diterapkan kepada siswa, seperti pelaksanaan sholat Dhuha dan sholat Dzuhur berjamaah
Mudah-mudahan kegiatan ini akan memberikan kesan yang mendalam kepada peserta didik baru bahwa belajar di sekolah yang baru itu menyenangkan. Berikut ini salah satu demonstrasi ekstrakurikuler yang diadakan di sekolah kami :







Jumat, 14 Juli 2017

Silahturohmi dan Halal Bilhalal SMP Negeri 88, Perkuat Ukhuwah Islamiah



Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
Suasana Hari Raya Idul Fitri memang masih sangat kental di bulan Syawal ini. Tak heran masih banyak masyarakat maupun institusi-institusi yang turut mewarnai bulan kemenangan ini dengan saling meminta maaf dan menyambung tali persaudaraan. SMP Negeri 88 mengawali kegiatan setelah cuti bersama Ramadhan dan Idul Fitri ini dengan menggelar Halal Bi Halal Idul Fitri 1438 H, pada Jumat, 14 Juli 2017.
Acara yang dimulai pada pukul 01.00 WIB tersebut diawali dengan berjabat tangan sebagai simbol saling memaafkan lahir batin antara kepala sekolah, para guru, dan segenap tenaga kependidikan. Antusias sekali mereka dalam menyambut halal bi halal ini.
Kepala SMP negeri 88 Slipi, Jakarta Barat, Drs. H. Yusron, M.Pd., dalam sambutannya, mengatakan kegiatan halal bihalal bagi kita bangsa Indonesia adalah merupakan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang kita, digali dari bumi pertiwi tercinta ini. Meskipun acara semacam ini termasuk tradisi, tetapi yang jelas manfaat dan maslahatnya besar sekali.
“Silaturahmi dan halal bihalal adalah hal saling memaafkan antara anak dan orang tua, antara suami dan istri, antara teman sekantor, antara tetangga, antara atasan dan bawahan sehingga terjadilah hubungan yang harmonis dan asosiatif di antara kita,” tuturnya.
Sebagai umat Islam sudah selayaknya kita berlapang dada dan saling memaafkan, yang sudah barang tentu dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya sehingga adanya rasa ketidaknyamanan dihati kita, baik itu hasil dari perbuatan kita maupun dari ucapan kita, baik itu disengaja maupun tidak disengaja, perbuatan langsung maupun tidak langsung, spontan maupun terencana, rasa sakit hati, iri hati, dengki, dendam maupun ghibah, yang tentunya akan menambah dan menyuburkan dosa-dosa kita.
“Untuk itu, dalam kesempatan yang berbahagia ini kami mengajak hadirin, untuk melapangkan dada, membuka hati dengan rasa sabar dan penuh keikhlasan atas ridho Allah SWT, meminta dan memberi maaf atas segala kesalahan di antara kita semua,” ujarnya.
Lebih lanjut, salah satu hikmah yang dapat kita petik lewat halal bihalal ini adalah terciptanya ukhuwah, tergalangnya persaudaraan yang lebih akrab di antara kita semua. Rasa sakit hati yang pernah timbul umpamanya, iri hati, dengki maupun ghibah yang pernah kita lakukan akan musnah kalau kita saling mengikhlaskan dan melupakan perbuatan yang lalu. Akan lebih baik lagi, apabila disertai dengan acara saling berjabat tangan.
“Berjabat tangan yang dapat menghilangkan rasa dendam, sebagai penawar hati yang luka, harus dilaksanakan dengan penuh keakraban. Selain tangan bertemu tangan, harus diikuti dengan mata saling memandang, lisan saling mendoakan dan hati saling mencinta. Untuk itu, jangan sampai terjadi seorang berjabat tangan tetapi wajahnya tidak melihat wajah orang yang diajak berjabat tangan,” jelasnya.
Pada kesempatan ini juga dilakukan penyampaian cenderamata kepada ibu guru dan katsatlak yang baru saja purna tugas, yakni Ibu Nurhayati Siagian, S.Pd dan Ibu Sumarmi, S.Pd.
Cenderamata dari sekolah SMP Negeri 88 Slipi, Jakarta ini diberikan sebagai kenang-kenangan tanda terima kasih atas pengabdian dan jasa beliau setelah sekian lama mengajar di sekolah ini.
Atas nama pribadi, keluarga maupun pimpinan, kami menyampaikan ucapan : “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H”, mohon maaf lahir dan batin.
“Semoga semua amal baik kita pahalanya dilipat gandakan oleh Allah SWT dan segala khilaf dan dosa mendapat ampunan dari Allah Rabbul Alamin. Amien.,” pungkasnya.




Selasa, 11 Juli 2017

Halal Bilhalal, Keluarga Besar SMP Negeri 88


Anggrek  Garuda  88,  Jakarta
Setelah sebulan menjalankan ibadah puasa Ramadhan, umat islam merayakan kemenangan di hari raya idul fitri 1438 H ini. Idul Fitri memiliki arti kembali kepada kesucian, atau kembali ke asal kejadian. Idul Fitri diambil dari bahasa Arab, yaitu fithrah, berarti suci.  Dan dalam kenyataannya, perjalanan hidup manusia senantiasa tidak bisa luput dari dosa. Karena itu, perlu upaya mengembalikan kembali pada kondisi sebagaimana asalnya. Itulah makna Idul Fitri. Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. Seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti. Idul Fitri merupakan momen penting untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok.
Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal-bihalal. Fenomena ini yang terjadi di Tanah Air, dan telah menjadi tradisi di negara-negara rumpun Melayu. Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling memberi kasih sayang.
Hari ini, Senin (10/07/2017), merupakan hari pertama tahun ajaran baru dimulai. Semua sekolah mengadakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).  Seperti biasanya, di pagi hari siswa dan guru melaksanakan apel pagi yang dilanjutkan kegiatan bersalaman, baik sesama siswa, siswa dan guru, serta karyawan atau guru dengan guru dan karyawan.
Kepala SMP Negeri 88 - Slipi, Drs. H. Yusron, M.Pd  mengatakan, “Silaturahmi mengawali hari pertama pengenalan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah {MPLS} bagi siswa baru. Pihak sekolah juga memperkenalkan sekaligus memberikan pengarahan dan pembekalan yang akan berlangsung sekitar 3 hari ke depan.
Kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai dengan tugas dan kewajiban kita. Jangan mengharapkan sesuatu yang di luar jangkauan dan kemampuan kita”, ungkapnya.

Minggu, 09 Juli 2017

KEPRIBADIAN GURU

KEPRIBADIAN GURU,  CERMIN DI MATA MURID


      Setiap manusia mempunyai naluri serba ingin tahu, konon itu sudah lumrah. Jadi, kalau kita ingin mengetahui bagaimana seharusnya guru yang baik itu bersikap, maka rasa ingin tahu itu wajar-wajar saja. Di tengah arus informasi global yang mengalir deras seperti sekarang, masih mungkinkah sosok guru memberikan keteladanan terhadap murid-muridnya ?
Bayangkan saja, murid masa kini sudah begitu terkepung beraneka ragam informasi, apakah itu dari media elektronik maupun media cetak.
            Bagaimanapun kehadiran guru masih tetap dibutuhkan. Sehebat dan secanggih apa pun tingkat perkembangan teknologi informasi, namun sosok guru tidak akan pernah menghilang dari percaturan dunia pendidikan. Penampilannya, ucapannya bahkan akhlaknya, inilah justru yang kelak dapat melahirkan generasi kelak di kemudian hari yang bisa diandalkan. Tatap muka antara guru dan murid tentunya akan lebih berarti ketimbang hanya berhadapan dengan seperangkat peralatan mati.
            Guru adalah panutan murid di sekolah. Bagaimanapun sikap dan tingkah laku guru pasti membiaskan kesan yang mendalam bagi si murid. Kendati secara tak sengaja sikap dan tingkah laku sang guru tidak disukai murid, namun akan memberi warna pada pola tingkahnya kelak. Tidak salah pula jika istilah guru merupakan kependekan dari ungkapan bahasa jawa, yang digugu dan ditiru.
            Apapun bentuk pengetahuan yang diberikan guru di meja pendidikan formal pasti ada yang mengingat-ingatnya, biar cuma oleh seorang murid sekalipun. Katakanlah pengetahuan tentang bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tua. Mengapa begitu ?  Karena pendidikan, menurut teori Hangeveld, hakikatnya memang harus dapat membentuk pribadi anak menuju alam kedewasaan.
            Dalam konotasi lain, guru sebagai pelaku pendidikan. Logis, jika sasaran kegiatan guru tertuju kepada murid. Kita sepantasnya memang harus bisa membedakan bagaimana peran seorang guru dan apa dampak perannya terhadap murid.
            Sebagai guru, seorang diharapkan mampu mengarahkan dan membentuk pribadi anak. Akan tetapi, bukan berarti anak hanya menjadi objek semata-mata yang lantas dibentuk dan dikekang. Anak justru diharapkan menjadi subjek, walupun ada keharusan untuk mematuhi sang guru.
            Khalil Gibran seorang tokoh beken di dunia pendidikan mengatakan, “Anak-anakmu bukanlah milikmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang merindukan kehidupan pula. Mereka hadir melalui-mu tapi bukan dari padamu. Walau mereka bersamamu, tapi mereka bukan kepunyaanmu. Kau boleh melindungi tubuhnya, tapi jangan kekang jiwanya karena mereka ada di hari esok yang mungkin dapat kau kunjungi walau hanya dalam mimpi. Kau berusaha agar seperti mereka, tapi jangan menghendaki agar mereka sama dengan kau, karena hidup tidaklah berjalan mundur, tidak pula tinggal di hari kemarin”.
            Apalah artinya guru sebagai panutan, kalau yang dipanuti tidak tahu arah, ke mana anak harus diarahkan, sehingga mereka tidak merasa hanya dibatasi kehendak dan jiwanya saja.

Memberikan Motivasi.
            Hendaknya imbalan terhadap siswa yang sungguh-sungguh dan berprestasi perlu dipikirkan para guru, hadiah tak perlu besar tapi bisa bermanfaat bagi mereka. Misalnya, dengan memberikan buku keagamaan yang menyangkut ketaqwaan kepada Tuhan.
            Siswa biasanya akan senang bila mendapat hadiah dari gurunya, apalagi bila ia mendapatkan hadiah tersebut bertepatan dengan momen-momen penting. Misalnya, ketika ia meraih prestasi gemilang dan menduduki ranking tertinggi di sekolahnya.
            Selain sebagai hadiah, pemberian ini bisa berdampak positif. Hubungan guru dan murid lebih erat. Tumbuh pula perasaan saling meyayangi dan mengasihi di antara mereka. Dengan rasa saling menyayangi, maka punalah sudah penyakit prasangka buruk atau rasa saling curiga antara pendidik dan murid mereka, jika perasaan seperti itu memang pernah bersemi.
            Andaikata seorang guru mendapat seorang siswa yng tekun belajar, apa salahnya jika siswa diberi pujian di depan teman-temannya. Upaya seperti ini akan mendorong siswa lain akan mengikuti langkah siswa yang telah berhasil dan memperoleh pujian itu.

Kepribadian Guru sebagai Tolok Ukur.
            Profesi guru merupakan pekerjaan terhormat dan dijunjung tinggi. Mereka dianggap mampu menjawab setiap persoalan yang berkaitan dengan pendidikan, bahkan masalah lain di kalangan masyarakat. Di wilayah pedesaan, anggapan bahwa guru adalah sosok arif yang harus diteladani masih begitu kental. Sekali mereka berbuat salah maka hancurlah citra baik yang disandangnya. Bila kita kaji lebih mendalam, rusaknya citra guru bukan semata-mata disebabkan oleh diri sendiri saja, adakalanya juga karena pengaruh lingkungan setempat. Perlakuan masyarakat terhadap mereka juga berpengaruh. Segelincir masyarakat ada yang melecehkan guru. Mereka beranggapan keliru tentang guru. Sebagai contoh, ada kata-kata yang terkadang menyakitkan hati. Buat apa sih jadi guru, nggak bakalan bisa kaya. Persis tuh seperti lagunya Iwan Fals, ‘Umar Bakri’.
            Di sisi lain tidak kurang pula sanjungan dan pujian yang diberikan kepada guru. Bila kita sering mendengarkan lagu dan puisi, ungkapan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, barangkali sudah tidak asing lagi. Ungkapan pujian itu bagaikan melekat di relung-relung ruang telinga.
            Tentunya para guru tidak berharap mendapat sanjungan dan pujian, jika hanya sekedar basa-basi yang akhirnya bisa menjurus ke arah pelecehan. Menerima sanjungan dan pujian bukanlah pekerjaan ringan, perlu pertanggung-jawaban. Benarkah seorang guru tidak pernah menginginkan imbalan jasa ?  Kalau jawabannya ‘Ya’, maka ia harus menjadi suri tauladan, bukan perbuatan tercela seperti yang dipergunjingkan orang. Ada guru panenlah, guru galaklah, dan macam-macam pergunjingan lain.
            Selama ini harapan dan idealisme masyarakat yang begitu tinggi, benar-benar mereka bebankan di pundak guru. Masyarakat menganggap bahwa guru adalah pendidik terbaik bagi anak-anaknya. Dan guru adalah orang terhormat dan memang selayaknya dihormati oleh masyarakat, khususnya orang tua murid.
            Persepsi demikian kadang membuat orang tua lengah. Pendidikan anak sepenuhnya diserahkan kepada guru. Padahal, pendidikan sebenarnya merupakan tanggung jawab keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga mata rantai inilah yang saling menjalin.
            Guru demikian awalnya, maka keberhasilan dan kegagalan anak didik bukan hanya karena faktor guru di sekolah, Namun, karena adanya kebersamaan langkah antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Orang tua sebagai pelaksana pendidikan keluarga di rumah merupakan dasar bagi pengembangan kompetensi dan kepribadian anak. Anggaplah anak baru lahir ibarat kertas putih tanpa tulisan apapun, isinya terserah orang tua. Berarti warna dan pendidikan macam apapun bisa diberikan kepada sang anak. Teori tabularasa John Lock mengatakan demikian.
            Kebalikannya, guru sebagai pendidik selama di lapangan banyak menghadapi keterbatasan-keterbatasan, walaupun tidak sedikit pula kita menemukan guru profesional, yang memiliki idealisme dan dedikasi tinggi dalam ikhwal melaksanakan tugasnya, bahkan mampu pula menepis di saat mereka ada di lapangan.
            Tipe guru professional seperti inilah yang memiliki kepribadian dan keteladanan. Tanpa keluhan, ia mampu mewujudkan hal-hal yang positif dan bahkan dapat memberi contoh perilaku yang kelak dapat memberi warna pada kepribadian sang anak.

Karya  :  Drs. Dedik Ekadiana

PUISI : NUANSA RAMADHAN 2020

NUANSA   RAMADHAN   2020 Karya : Dedik Ekadiana Langit berpayungkan lazuardi Awan bercengkrama dan menderu Alam bertakhta tuk ...