Jumat, 05 Januari 2018

PUISI


                                    Bangun Bahasa Bangsa
                                    Karya : Dedik Ekadiana


                 Bahasa menunjukkan bangsa
                Adab tutur kata menunjukkan budaya
                Tingkah laku menunjukkan budi pekerti
                Yang rendah ataupun yang tinggi

                                Ada sekelompok generasi
                                Menuai kata dengan ilusi
                                Membangun sapa dengan sikap tak peduli
                                Sosoknya pun jadi asing di negeri sendiri


                Betapa ini semua tanda malapetaka
                Tentang keruntuhan satu sendi bangsa
                Bahasa laksana ritual mati
                Hanya berisi komat - kamit dan jampa - jampi

                                Nusantara bukanlah kesatuan ilusi
                                Tapi, sendi - sendinya telah terbangun pasti
                                Di antaranya adalah bahasa sendiri
                                Yang memayungi bahasa dan budaya bumi pertiwi

                Dalam kebeliaanmu,  wahai generasi
                Janganlah mudah terhanyut arus informasi
                Bahasaku juga bahasamu
                Tetaplah juga sendi bangsa

                Tak perlu ragu

Kamis, 04 Januari 2018

RITUAL ADAT TENGGER

KASODO, UPACARA RITUAL ADAT TENGGER


Bumi Cipondoh Asri,  Tangerang
Siapa tak kenal dengan masyarakat Tengger ? Masyarakat yang hidup di lereng Pegunungan Tengger ini konon banyak menarik perhatian para budayawan bahkan wisatawan manca negara. Tak ubahnya masyarakat suku Naga di wilayah Tasikmalaya, begitu pula suku Baduy di kawasan Banten. Mereka tergolong unik dan masih mempertahankan kehidupan yang begitu terikat pada tradisi.
  Suku Tengger berasal dari dua tokoh kerajaan Majapahit. Ketika itu Brawijaya mempunyai putri bernama  Rara Anteng.  Putri ini dinikahkan dengan  Joko Seger,  seorang pemuda yang masih keturunan Brahmana. Ketika Agama Islam mengembangkan pengaruhnya di Pulau Jawa,  sebagian rakyat Majapahit yang setia kepada Agama Hindu melarikan diri ke pegunungan di kaki Gunung Bromo. Kelompok Majapahit ini dipimpin langsung oleh  Joko Seger  dan  Roro Anteng. Kombinasi kedua tokoh tersebut akhirnya berubah menjadi akronim Tengger  (Teng berasal dari Roro Anteng, Ger berasal dari Joko Seger).
Image : Google
  Cikal bakal masyarakat Tengger beragama Hindu, untuk itu tradisi agama ini masih terkesan kental. Setahun sekali warga Tengger mengadakan upacara atau ritual ke-agamaan di Puncak Gunung Bromo dan Lautan Pasir. Menurut kalender masehi, upacara tersebut jatuh pada bulan ke-12 saat bulan purnama tiba, tepatnya di pertengahan bulan. Upacara ke-agamaan yang di sebut KASODO melambangkan rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Pencipta, yang diwujudkan dengan mengorbankan hasil sawah, ladang,  dan ternak sebagai persembahan.
  Kawah Gunung Bromo dianggap sebagai tempat mensucikan arwah manusia, yang mereka kenal dengan Entas-Entas (pelabuhan transit bagi arwah yang hendak menuju ke kahyangan). Sebelum mencapai gerbang kahyangan, arwah-arwah itu harus bersih dari noda dan dosa yang pernah mereka lakukan semasa hidup. Entas-Entas dilaksanakan pada hari ke-44 setelah kematian;  bisa juga dilaksanakan pada hari lain; bergantung kemampuan ekonomi keluarga yang hendak melaksanakan upacara keagamaan.  Upacara dilakukan dengan menggunakan boneka dari daun pampaung, tanah layu, nayakuh, kenikar, dan janur kuning. Boneka sebagai simbol orang disebut PETRA, yang dihias dengan pakaian milik almarhum. Jumlah petra disesuaikan dengan sosok yang hendak di-entaskan.
Image : Google
  Upacara kematian ini dipimpin oleh seorang dukun. Ia membacakan mantera, kemudian memasukkan petra ke dalam pengaron (periuk terbuat dari tanah liat). Di saat membaca mantera, sang dukun menghadap ke arah Barat. Saat itu pula, di hadapan sang dukun duduk sejumlah anak-anak kecil bertelanjang dada dan berkerudung kain putih. Mereka duduk berjejer sesuai dengan jumlah sosok yang hendak di-entaskan.  Di pertengahan pembacaan mantera, sang dukun mulai menanak nasi, bahan bakarnya dari buah jarak kering, kemudian mengambil beberapa lembar rambut dari masing-masing ubun-ubun anak kecil dan membakarnya. Selanjutnya kerudung putih tersebut diberi jarum sambil ditaburi beras di kepala anak-anak kecil itu. Upacara terkesan unik, tampak setelah sang dukun mengempit ayam putih dan membiarkannya mematoki beras di kepala anak-anak. Seorang yang dianggap sebagai sesepuh dari keluarga tersebut, membelah kelapa persis di depan pintu; diiringi pembacaan mantera penutup seraya melepaskan pakaian pembungkus setiap petra. Petra tersebut digendong para ibu kemudian dimasukkan ke danyang (tempat para roh jahat) lalu dibakar. Sesudah itu mereka membawa iber-iber berupa ayam yang dimaksudkan sebagai pengganti mayat dalam ngaben, seperti dilakukan di Bali.  
Image : Google
 Sebagai pelengkap upacara dibutuhkan perangkat sedekah praskayopan (setumpuk daun sirih, takir berisi pinang dan bunga, di atasnya diletakkan srebu atau pincuk kecil berisi talas dan kacang rebus yang ditaburi parutan kelapa). Bagian atas praskayopan ditaruh beberapa busana, kemudian dinaikkan ke loteng bersama klontongan dengan diiringi mantera. Malam harinya gamelan ditabuh bertalu-talu, dilanjutkan dengan permainan teka-teki dan sodoran, dan diakhiri dengan doa, barulah sang dukun membagikan uang logam ke perserta upacara. Uang logam tersebut dimanfaatkan sebagai jimat, yang sebelumnya harus menukar dulu dengan uang logam lain yang hendak disimpan di kluntung. Uang logam inilah yang nantinya digunaan dalam Upacara Karo tahun berikutnya.
  Upacara Wilujengan Karo lazimnya dilaksanakan pada tanggal 7 bulan kedua, untuk mmperingati roh leluhur atau bapak biyung, sebagai pendahulu generasi yang ada saat sekarang.
Selanjutnya, Wilujeng Kapat, upacara ini dilaksanakan guna memperingati sedulur papat, limo pancer, momong jangkung (penjaga desa), dan monco papating dusun atau kiblat empat desa.
  Wilujengan Kapitu jatuh pada tanggal 1 bulan ketujuh, diadakan puasa geni yang dianjutkan dengan puasa mutih selama 28 hari, dan diakhiri dengan puasa patigeni. Biasaanya puasa ini dilakukan oleh pamong desa, dukun, para sesepuh, dan masyarakat yang dianggap mampu menjalani puasa tersebut.
  Wilujeng Kawulo, pelaksanaannya pada tanggal 1 bulan kedelapan. Tujuannya untuk menyelamatkan bumi, air, api, angin, matahari, bulan, bintang, dan angkasa luar lainnya. Wilujengan kapat, kpitu, dan kawulo ini dalam sesaji sama dengan wilujengan karo; manteranya saja yang berbeda.
 Wilujengan Kasongo diadakan pada tanggal panglong bulan kesembilan. Tujuannya untuk menyelamatkan babatan hawa songo atau Sembilan lubang yang ada pada tubuh manusia. Sedang Wilujengan Kasodo diadakan pada tanggal 14 bulan kasodo di laut pasir Gunung Bromo.
  Unik dan menarik, begitulah kesan upacara ini. Kendatipun terlihat kuno bagi sebagian besar masyarakat modern, namun banyak aset-aset budaya yang bisa kita simak. Se-kuno apapun upacara ritual/tradisi di wilayah Tengger ini tak bisa kita sangkal, di sana tersimpan gaya hidup yang justru bisa kita jadikan pelajaran berharga, terutama dalam hal menghargai lingkungan hidup yang umumnya nyaris lolos dari perhatian masyarakat modern, yang hanya hidup dengan memburu harta.
 Sebagai aset wisata, kelestarian budaya masyarakat Tengger perlu dipertahankan. Bukan hanya sebagai figur atau tontonan menarik melainkan sebagai museum hidup yang menyimpan nilai-nilai sejarah.

By : Dedik

Jamu


JAMU GENDONG, di tengah PERADABAN dan TRADISI

Bumi Cipondoh Asri,  Tangerang
Dahulu kala, nenek moyang kita sudah mengenal yang namanya apotik hidup. Bila sakit cukup mencari ramuan dari akar, dedaunan, kayu, dan kulit kayu yang sudah tersedia di halaman rumahnya. Cukup dengan menumbuk saja, ramuan tersebut bisa langsung disedu. Alhasil, obat tersebut tidak punya efek samping.
Jamu merupakan sarana pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang kita, di dalamnya berisi ramuan dan atau racikan dari akar, dedaunan, kayu, kulit kayu, dan biji-bijian yang diolah oleh ahlinya.
Di era modern ini walau kehidupan serba instan, tapi keberadaan jamu tradisonal tidak begitu tergeser. Ini terbukti masih banyaknya sang penjual jamu gendong bertebaran di kampung-kampung. Wujud dari kepedulian masyarakat terhadap tradisi nenek moyang dahulu kala.
Penjual jamu gendong umumnya dari Solo dan Wonogiri yang selalu setia mengunjungi pelanggannya. Contohnya Kariyem (38th) asal Solo, tinggal di perkampungan Poris Plawad Cipondoh. Setiap harinya menjajakan jamu gendongnya di kawasan kompleks perumahan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Menurutnya, tidak merasa berat
walau barang yang digendongnya kurang lebih sekitar 15 kg. Isinya berupa botol beras kencur, sinom, lempuyang, madu, dan jamu bungkus.  Umumnya, para bapak membeli jamu sehat lelaki, kuku bima, dan tangkur. Para ibu juga tidak mau ketinggalan, mereka banyak memesan jamu galian singset dan sari ayu. Untuk kebugaran tubuh, bisa pesan jamu pegal linu, sari temu lawak, dan sinom.  
Kariyem punya pelanggan tetap terdiri dari para bapak, ibu, remaja, dan anak-anak. “Biarpun jamu gendong hampir punah, saya tetap mempertahankan keberadaannya. Ini warisan leluhur nenek moyang kita dulu”, tuturnya kepada penulis.

By : Dedik

Minggu, 31 Desember 2017

Tahun Baru 2018

Sambut Tahun Baru 2018, bersama Keluarga

Bumi Cipondoh Asri,  Tangerang
Tak terasa sebentar lagi kita akan menyambut tahun baru dan meninggalkan tahun yang lama. Event ini akan bermakna dan terlihat seru kalo kita merayakannya bersama sanak keluarga dan atau sahabat.
Mendengar kata tahun baru, pasti ada teman atau keluarga yang bertanya "mau bakar apa malam ini". Tentu tradisi bakar-bakaran saat malam tahun baru banyak dilakukan masyarakat terlebih di Indonesia ini sekaligus menunggu jam tepat pergantian tahun baru. Biasanya juga bakar-bakaran ini ditemani ayam, jagung atau makanan lainnya yang bisa dibakar.
Fenomena yang terjadi ketika memasuki detik-detik pergantian tahun biasanya menjadi saat-saat yang menyenangkan bagi semua orang. Dan di saat itu pula berbagai acara dilakukan mulai dari acara kembang api, jalan-jalan mengunjungi suatu tempat atau acara bakar-bakan ikan di rumah atau di tempat tertentu. Setiap orang berbeda-beda dalam menyambutnya. Begitu pula dengan saya, cukup mengadakan acara bakar-bakar ikan dan makan bersama di rumah.
Manusia terkadang berubah-ubah dalam merespon pergantian tahun. Tak perlu jauh-jauh pergi ke suatu tempat untuk menyambut tahun baru, berkumpul bersama keluarga adalah hal yang menyenangkan  bisa bergembira bersama dan makan bersama penuh dengan kebahagiaan di malam menyambut tahun baru. Acara bakar-bakar ikan di rumah bertambah indah ditambah dengan permainan kembang api dan melihat ke langit penuh dengan kembang api.
Pokoknya,  saat  menyambut  pergantian tahun bukan tahun barunya yang penting, tetapi bagaimana setiap manusia mulai menata ulang sikap mentalnya untuk memasuki tahun yang baru,  mengasah kompetensi diri dengan metode yang baru untuk meraih jenjang karier yang baru.
By  :  Dedik

Jumat, 29 Desember 2017

Ulang Tahunku

Catatan Kecil, Ulang Tahunku
Bumi Cipondoh Asri,  Tangerang
Tak terasa usia-ku makin bertambah. Satu persatu daun-daun usia berguguran. Aku selalu mempunyai harapan yaitu kualitas diri yang lebih bagus setiap kali usia-ku bertambah. Aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri dan berkarya.
29 Desember 2017 genap usiaku 52 tahun, hari yang bermakna bagiku. Hari di mana dulu aku pernah dilahirkan. Tak terasa hari demi hari, minggu berganti minggu. Tua adalah perjalanann hidup, liku-liku hidup yang kulalui dalam suka dan duka kujadikan refleksi diri, karena hidup itu pilihan dan tua itu kepastian.
Momen-momen usia bertambah, adalah momen intropeksi diri. Dalam geliat usia yang bertambah, fitrah kemanusiaan kita selalu menyimpan cita-cita dasar dalam hidup, yaitu bisa memberi manfaat bagi orang lain.  Mudah-mudahan, sejauh ini saya bisa memberikan manfaat bagi orang lain.  Dan Aku juga tak lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT karena punya sahabat-sahabat yang mau mendoakan-ku.
Kini aku sudah berkeluarga, menjadi seorang ayah, mencoba mengais hidup. Jadikanlah hamba-Mu ini menjadi khusuk dan tawadhu dalam menjalani kehidupan serta menerima hikmah dan berkah-Mu. Hari ini bertambah usia dalam hitunganku dan berkurang pula usiaku dalam hitungan-Mu.
"Terima kasih ya Allah, Engkau berikan aku istri dan dua anak-anakku yang selalu ada dan hadir disetiap gelombang kehidupanku".  Alhamdulilah di-usia senja ini Allah SWT tetap mempersatukan keluargaku berupa seorang istri dan dua anak-anakku yang tak pernah menyusahkan diriku karena mereka tahu dan memahami kehidupanku.
Ya Allah satu keinginan di hari ulang tahunku ini adalah agar selalu bisa membahagiakan mereka dan selalu dalam jalan yang Engkau ridhai. Ya Allah berikanlah petunjuk kepadaku agar menjadi hamba yang kuat,  sabar,  dan ikhlas dalam menghadapi kehidupan ini.   Tuntunlah diri ini agar menjadi pribadi yang bijaksana dalam menghadapi segala persoalan di dunia ini.
Aku bahagia dengan kehidupanku, memiliki istri yang baik dan anak-anak yang soleh. Semoga Allah SWT senantiasa mempersatukan kami dalam rodlo-Nya.
Amin.  

By :  Dedik

Sabtu, 23 Desember 2017

SUNAT MASSAL

ALUMNI 1984 SMPN 88 JAKARTA,  GELAR SUNAT MASSAL
Anggrek Garuda 88,  Jakarta
Sabtu, 23 Desember 2017, Alumnus 1984 SMPN 88 Slipi, Jakarta mengadakan gebrakan baru bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Satu rangkaian kegiatannya berupa sunatan massal gratis dan pemberian bingkisan kepada anak-anak yang mengikutinya berupa tas sekolah, sarung, kopyah, kaos, body bag, makanan ringan, dan amplop.  Hal tersebut dilakukannya untuk membuktikan eksistensinya di lingkungan warga sekitar sekolah. Menurut Bu Era Rahmah selaku ketua panitia “Acara Khitanan massal dipilih  karena SMPN 88 belum pernah melakukan acara Khitanan masal sebelumnya, di samping juga rasa cintanya terhadap almamater agar dikemudian hari mendapatkan prestasi yang membanggakan “. tegasnya.
Sunatan massal kali ini diikuti 31 orang anak yang mendaftar. “Alhamdulillah acara ini berjalan dengan lancar sesuai dengan jadwal tanpa ada kendala yang berarti. Hal ini untuk mempererat tali silaturahmi antara siswa dan guru di masanya dan juga sebagai ucapan dan penghargaan yang sebesar-besarnya atas jasa-jasanya guru selama mendidik kami dahulu”, tutur Hengky selaku ketua pelaksana harian.
Menurut Mirna, orang tua M. Muflih (3 tahun) Kelurahan Kota Bambu, mengaku gembira setelah anaknya dikhitan. Sebagai orang tua, mengucapkan terima kasih kepada pihak SMPN 88  yang telah mengkhitankan anaknya. Acaranya seru, penuh semangat, ramah, dan eksaitet.  Saya senang,akhirnya anak saya bisa sunat juga,” ungkapnya.
Hj. Syarifah  mengaku kesulitan untuk mendapatkan peserta sunatan masal meskipun gratis, “Masyarakat kita masih malu kalau anaknya diikutkan dalam sunatan massal,”  tuturnya.
Drs. H. Yusron, M.Pd Kepala SMPN 88 Jakarta mengapresiasi kegiatan sunat massal ini yang dikomandoi oleh Alumni 1984. “Baru pertama kali acara ini diselenggarakan, cukup meriah, respon dari masyarakat sangat bagus. Semoga bermanfaat bagi kita dan warga sekitar sekolah,” ungkapnya.
“Sebelum dikhitan, mereka  diajak berkeliling dengan menaiki andong dan diiringi hadroh milik SMP Negeri 88 Jakarta,” tambah H. Yusron.
Pengawas Paket Bapak Drs. Ramdani  yang mewakili Kasudin Jakarta Barat Wilayah 2, mengatakan, khitanan massal sengaja digelar selain untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW juga sebagai bentuk kepedulian alumni dalam meniti prestasi khususnya untuk SMPN 88. “Komunitas alumni terjaring, untuk itu saya menghimbau agar mendirikan BIMBEL sebagai wadah ajang berpretasi untuk adik-adik kelasnya.”, tuturnya.
Bapak Aries selaku Komite SMPN 88 juga menghimbau agar kegiatan ini berkesinambungan. “Kalo bisa Alumni 1984 ini sebagai motivator untuk menjembatani keseluruhan alumni supaya kedepannya bisa terprogram tali silahturohmi kita”, ungkapnya.
   Khitanan massal ditangani enam dokter yakni dr. Rahmad Abas (Ketua Tim Medis),  dr. Reza, dr. Arianda, dr. Ibnu Zamza, dr. Falah,   dan dr. Kiki yang dibantu enam orang tenaga paramedis. 
Menurut keterangan dr. Rahmad Abas salah satu dokter dari Klinik Ya Karya yang melakukan pembedahan Khitan ini, khitan dari sudut pandang disiplin ilmu kedokteran mengandung nilai kesehatan yang efisien. “Khitan merupakan sunnah dalam agama dan juga bermanfaat bagi kesehatan, “ tuturnya.
Turut hadir saat acara pembukaan yakni :  Kepala Suku Dinas Jakarta Barat Wilayah 2 (yang diwakili Bapak Ramdani, pengawas Paket), Polsek Kemanggisan, Lurah, RW, RT, Tokoh Masyarakat,  dan orang tua peserta sunat massal.

By  :  Dedik

PUISI : NUANSA RAMADHAN 2020

NUANSA   RAMADHAN   2020 Karya : Dedik Ekadiana Langit berpayungkan lazuardi Awan bercengkrama dan menderu Alam bertakhta tuk ...