Kamis, 22 Maret 2018

SOSIALISASI BANK SAMPAH


SMPN 88 JAKARTA,  
GELAR SOSIALISASI BANK SAMPAH

Anggrek Garuda 88,  Jakarta
Edukasi peduli sampah sudah dilakukan ditiap jenjang sekolah, mulai dari TK hingga SMA. Sebagai upaya peningkatan kualitas dan kuantitas Bank Sampah, Selasa (20/3),  Sudin Lingkungan Hidup melaksanakan sosialisasi Bank Sampah bertempat di Aula SMPN 88 Jakarta. Kegiatan tersebut diikuti dewan guru, anggota OSIS, beberapa siswa, perwakilan bank BNI Palmerah, dan Satpel Palmerah.  Narasumber agenda sosialisasi tersebut  Bapak Subarna M. Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat.  
Dalam sambutannya Subarna mengatakan ”Sosialisasi bertujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi pemakaian sampah plastik, memilah sampah sesuai dengan katagorinya masing-masing, serta dapat mewujudkan Indonesia Bersih 2020”, ungkapnya
“Sampah jangan dipandang sebagai suatu permasalahan namun ambil manfaatnya. Salah satunya dengan program bank sampah, memilah sampah untuk didaur ulang. Manfaat lainnya dapat meningkatkan kesadaran siswa untuk membuang sampah pada tempatnya sehingga tidak membuat kotor lingkungan yang ada”, tambahnya
Kepala SMPN 88 Drs. H. Yusron, M.Pd mengapresiasi positif pembinaan yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Barat, “ Harapan kedepannya kepengurusan bank sampah yang sudah terbentuk bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis”,  harapnya.

By : Dedik

Rabu, 21 Maret 2018

KENAKALAN REMAJA


KENAKALAN  REMAJA,
SIAPA  YANG  BERTANGGUNG  JAWAB  ?

Bumi Cipondoh Asri,  Tangerang
Anak-anak membutuhkan seorang pembimbing itu benar, tetapi mereka juga membutuhkan orang tua yang dihormati, dikagumi, akhirnya dapat dijadikan panutan untuk diteladani.
Mengingat semakin pesatnya kenakalan remaja dewasa ini, perlu kiranya kita berpikir, bagaimana cara menanggulangi gejala tersebut sekaligus meneliti mengapa grafik kenakalan justru kian meningkat ?
Sulit disangkal, kenakalan remaja sekarang ini sudah tidak dapat kita katagorikan kenakalan dalam batas wajar. Mengapa ? Kenakalannya mengarah ke tindakan kriminal,  pelanggaran terhadap norma hukum, dan etika sosial masyarakat, seperti penyalahgunaan narkotika, menodong, memperkosa, dan tawuran antarsekolah, tak lebih hanya demi mendapatkan kepuasan dan pujian di antara sesama teman.
Image  :  Google
Leo B. Blissing seorang hakim di Amerika Serikat dalam simposiumnya yang berjudul “The Angry Adolescent” mengatakan “Faktor penyebab kenakalan remaja adalah keretakan hubungan anak dengan orang tua. Dari sekian banyak kenakalan remaja, sang hakim menyimpulkan bahwa kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan orang tua merupakan titik tolak berkembangnya kenakalan pada diri anak”.
Selanjutnya, Leo B. Blissing sendiri menjumpai kesulitan, bagaimana merumuskan tindakan jitu untuk mencegah kenakalan mereka. Ia hanya mampu memberi saran, apa yang sebaiknya dilakukan para orang tua terhadap anaknya saat menginjak remaja.

Beri Mereka Kepercayaan.
Hal-hal yang bersifat pribadi katakanlah merupakan hak mutlak yang melekat pada diri seseorang. Hal-hal bersifat psikhologis semacam ini agaknya memang perlu diketahui bahkan direnungkan. Contoh kecilnya, seorang Ibu mungkin pernah memarahi anak gadisnya dikarenakan pulang terlambat.  Mungkin ia lagi nonton film dengan sang kekasih,  si Ibu menghardik, “Apa saja sih yang kamu lakukan, nonton aja kok berjam-jam. Jangan-jangan kalian berbuat tidak senonoh. Ibu paling tidak suka melihat cara kalian seperti ini. Dasar anak nggak tahu diri”.
Timbul pertanyaan. Wajarkah seorang Ibu mengorek begitu dalam masalah pribadi anaknya ?  Dapat dipastikan, tindakan seperti itu sangat keliru. Bagaimanapun seorang Ibu jangan sampai merobek-robek hak pribadi seseorang, walau itu anaknya sendiri. Tidak layak menganggap pendapatnya paling benar. Kalu hal tersebut terjadi, berarti sang Ibu telah membuat lubang perselisihan batin dengan putrinya,  kemungkinan si anak justru akan bersikap semaunya dan tidak mau lagi menaruh rasa hormat apalagi mematuhi kehendaknya. Meletakkan tanggung jawab dan kepercayaan pada diri anak merupakan langkah menguntungkan dalam upaya mendidik mental dalam mewujudkan tanggung jawab.
Hubungan antara anak dan orang tua harus akrab, penuh pengertian,  dan kasih sayang. Memecahkan problem dengan mengikutsertakan anak penting sekali, artinya si anak merasa mendapatkan perhatian dan kepercayaan mengisi tanggung jawab keluarga. Di sini, si anak mendapatkan motivasi psikhologis menjalin kepercayaan pada dirinya sendiri.
Keyakinan adalah faktor terpenting menghadapi segala macam bentuk peradaban. Terbinanya kepercayaan pada diri anak, telah memberi andil besar terhadap perkembangannya dalam upaya menemukan jatidiri.
Tunjukkan Kelemahan dan Beri Semangat.
Tidak sedikit kalangan keluarga bersikap masa bodoh terhadap apa yang dikerjakan si anak. Dalam masa perkembangan, anak memerlukan bimbingan,  seperti  dipuji, dimintai pertanggungjawaban, dan ditegur sambil menunjukkan kesalahan adalah tindakan yang harus kita lakukan.
Dengan langkah seperti ini, disiplin anak tetap terjaga, rasa hormat, dan segan akan muncul karena si anak merasa diberi hak dan kepercayaan. Sikap arif pada hakekatnya sangat mempengaruhi perkembaangan, terutama lingkup kehidupan dan cara bertindak kedua orang tua mereka.
Hubungan Ibu dan anak harus dapat diibaratkan bak teman sepermainan. Dengan begitu anak akan merasa tidak segan menanyakan hal-hal yang dianggap rumit sampai masalah yang sangat pribadi sekalipun. Jika ditanggapi dengan ke-arifan, mungkin bukan hal yang bersifat rahasia lagi.
Terjadinya pemerkosaan, penodongan, dan tindak kejahatan yang dilakukan para remaja, besar kemungkinan merupakan manifestasi ketidakpuasannya terhadap situasi di lingkungan rumah. Anak-anak usia remaja lazimnya haus perhatian. Mereka mendampakan sosok panutan yang sanggup meredam gejolak perasaan tak puas mereka, di samping rasa aman dan kasih sayang orang tua.
Image  :  Google
Jelasnya, kenakalan remaja bukanlah kesalahan anak semata. Salah satu sebab adalah kurang perhatian dan kasih sayang kedua orang tua. Di sini peran orang tua sangat berpengaruh dalam upaya mengatasi lonjakan kenakalan remaja. Orang tua harus mampu menjadi teman sepermainan, menjadi kakak sekaligus pembimbing yang disegani dan dihormati. Fokus kenakalan remaja menjadi tanggung jawab kita bersama, baik orang tua terhadap anaknya secara langsung maupun masyarakat yang berada di lingkungan anak-anak remaja.
Hendaknya masyarakat yang memiliki otoritas terhadap anak-anak remaja, bersedia memberi contoh yang bisa diteladani, entah mereka seorang eksekutif, guru, bahkan sosok yang menjadi public figure. Jangan membuat anak-anak remaja menjadi  muak karena melihat tingkah laku yang tidak sepantasnya dilakukan menurut ukuran norma agama dan etika sosial.
By : Dedik

Senin, 19 Maret 2018

GLADI BERSIH UNBK


GLADI BERSIH UNBK 2017-2018, SMPN 88  JAKARTA
Anggrek Garuda 88,  Jakarta
Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) disebut juga Computer Based Test (CBT) adalah sistem pelaksanaan ujian nasional dengan menggunakan komputer sebagai media ujiannya.  SMPN 88 menggelar gladi bersih UNBK dengan empat ruangan kelas, Senin (19/3) hingga Selasa (20/3). Simulasi tersebut dilakukan 2 sesi, pukul 07.30-9.30 dan pukul 10.00-12.00 WIB. dengan masing-masing ruangan dipersiapkan 36 siswa.
Dalam simulasi UNBK tersebut,  seluruh siswa kelas 9 yang berjumlah 283 mengerjakan Matematika di hari pertama dan Bahasa Inggris pada hari kedua dengan melibatkan proktor dan teknisi sekolah sebagai fasilitator.
“Simulasi UNBK ini menjadi ajang pemahaman teknologi bagi siswa terhadap penguasaan komputer. Setiap siswa diharapkan mampu mengoperasikan dengan cermat aplikasi soal-soal UNBK, supaya dalam pelaksanaannya nanti dapat  meminimalisasi kurangnya penguasaan dalam mengerjakan soal menggunakan komputer,” ungkap Kepala SMPN 88, Drs. H.Yusron, M.Pd
“Simulasi ini dikondisikan seperti ujian sebenarnya agar para peserta tidak canggung karena sudah mengetahui langkah-langkahnya,” tambahnya
By : Dedik

Sabtu, 17 Maret 2018

SOLIDARITAS ALUMNI SMPN 88


AKSI SOLIDARITAS,  ALUMNI SMPN 88 ANGKATAN 1988

Anggrek Garuda 88,  Jakarta
Salah satu bentuk solidaritas untuk menumbuhkan jiwa sosial dan semangat gotong royong, Alumni SMPN 88 Angkatan 88 menggelar bakti sosial donor darah bertempat di aula sekolah, Sabtu (17/3).
Ketua panitia pelaksana dr. Muhammad Nurussalam, MARS, mengapresiasi kegiatan tersebut. “Ini merupakan aksi sosial perdana yang sangat memberikan manfaat bagi orang lain, mengingat kebutuhan akan darah sangat tinggi untuk menolong sesama,” tegasnya.
Kegiatan ini tidak terbatas untuk alumni saja. “Untuk donor darah ini, kami bekerjasama dengan PMI DKI mengajak masyarakat sekitar untuk ikut mendonor darahnya,” tambahnya
Kegiatan dibuka oleh Kepala SMPN 88, Drs. H. Yusron, M.Pd. mengatakan “Kegiatan yang diprakarsai para alumni merupakan bentuk silahturohmi dengan dewan guru. Di sisi lain, juga memberikan ispirasi kepada adik-adik kelasnya berupa kegiatan kemanusiaan yang bermanfaat, salah satunya adalah donor darah,” ungkapnya.
Donor darah yang berlangsung hingga pukul 13.00, mendapat respon positif dari alumni. Tidak itu saja, sebagian besar alumni SMPN 88 turut berpartisipasi mendonorkan darahnya.
“Dengan mendonorkan darah secara rutin setiap tiga bulan sekali, pendonor dapat mengetahui kondisi kesehatannya,” ungkap salah seorang petugas PMI.
“Tolong menolong itu bukan hanya dengan barang saja, melainkan juga dengan darah kita bisa menyelamatkan hidup orang lain melalui aksi donor darah yang dilakukan oleh lembaga resmi seperti PMI,” tambahnya.
Dari 75 pendonor, 50 orang alumni dan sisanya masyarakat umum. Adapun kantong darah yang terkumpul sebanyak 53 kantong.
“Kantong darah ini akan disimpan dan diserahkan ke PMI sebagai institusi yang berwenangan,” pungkas Ketua panitia pelaksana.
By : Dedik

Selasa, 13 Maret 2018

ADIPURA


SMPN 88,  PERSIAPKAN PENILAIAN ADIPURA

Anggrek Garuda 88,  Jakarta
Menjelang penilaian Adipura Tingkat kota tahun 2018, Senin (12/3) SMPN 88 Jakarta diikuti seluruh siswa kelas 7 dan 8 dengan melibatkan anggota OSIS melakukan kerja bakti membersihkan halaman, ruangan kelas, taman, tempat ibadah/masjid, pemilahan sampah dan seluruh fasilitas ruang di lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Wildani dibantu Juli Maulavi, Ida Zubaidah, dan Alie Ahmad.
“Kita mendukung kegiatan kebersihan tersebut yang bisa memotivasi siswa untuk senantiasa peduli terhadap pentingnya hidup sehat,” tutur Wildani.
“Ini upaya eksistensi dunia pendidikan dalam memberikan kontribusi dengan menjadi bagian dari penerima Adipura”, tambahnya.
“Jelang kedatangan Tim Penilai Adipura, kita berbenah diri tingkatkan kebersihan. Kita bentuk satuan piket per-kelas 5 siswa yang bertugas menjaga ketertiban dan kebersihan di lingkungan sekolah”, ungkap Kepala SMPN 88, Drs.H.Yusron, M,Pd.
“Kita sudah dapat sosialisasi program pencapaian dari dinas, untuk itu kebersamaan dan kerjasama lebih ditingkatkan lagi dalam menjaga lingkungan demi suksesnya Adipura”, tutupnya.
By : Dedik

PUISI : NUANSA RAMADHAN 2020

NUANSA   RAMADHAN   2020 Karya : Dedik Ekadiana Langit berpayungkan lazuardi Awan bercengkrama dan menderu Alam bertakhta tuk ...